Tag: Qurban

TEBAR QURBAN TERBAIKMU DI YAYASAN NURUL IHSAN

Tebar Qurban Terbaik-Mu Di Yayasan Nurul Ihsan

Bismillahirrohmanirrohim

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh, Sahabat Yatim YNI!

Tak terasa Idul Adha semakin dekat.

Setelah di siarkannya pembatalan haji di tahun ini, tapi jangan surutkan semangat dan niat.

Maka, berqurban ialah menjadi ibadah paling utama di bulan Idul Adha tahun ini yang paling tepat.

Yayasan Nurul Ihsan kembali tahun ini dengan program “Gerakan Qurban Ramadhan 1441 H”, siap menerima dan menyalurkan hewan-hewan qurban. Yang paling utama di tujukan untuk anak-anak yatim, dhuafa, para janda, jompo kaum lansia. Yang tersebar di sekitaran Pondok Kopi-Buaran-Klender di Jakarta Timur.

Kenapa Harus Qurban Di Yayasan Nurul Ihsan?

Jawabannya karena kami menyalurkan hewan-hewan dengan tepat sasaran, sekaligus dengan adanya masa pandemic ini yang telah kita tahu bahwa banyak para pekerja sebanyak 12,7 juta berdasarkan data dari pemerintah yang kehilangan pekerjaan yang menjadi satu-satunya tempat mereka mencari rizki menjadi terputus.

Yayasan Nurul Ihsan yang dimulai berdiri sejak tahun 2005, menjadi media dalam penyaluran dan penyebaran hewan qurban untuk anak-anak yatim, dhuafa, keluarga yang kurang mampu, para jompo/lansia, serta para janda. Yang dimana mereka bergantung dalam bantuan social dari para dermawan dan sahabat yatim YNI.

Dengan Qurbanmu bantu mereka supaya mendapatkan gizi cukup, yang padahal mereka tidak sering makan daging. Alhamdulillah, dengan adanya “Gerakan Qurban Berkah 1441 H” maka kita telah turut membahagiakan keinginan mereka untuk makan daging.

Dengan izin Allah, Yayasan Nurul Ihsan mengajak para dermawan untuk memenuhi panggilan Allah dibulan yang mulia ini. Mari kita sebarkan kebahagiaan pada mereka yang membutuhkan.

Salurkan donasi terbaikmu dengan cara:

  1. Transfer ke rekening a/n Yayasan Nurul Ihsan di No. rek
  2. Bank Mandiri 006-00-0609147-8
  3. Bank BRI 0997.01.003230.50.0
  4. Bank Syariah Mandiri 7085-2222-22
  5. Konfirmasi transfer Qurban Berkah-mu ke nomer
  6. 0812 1037 6004 (Whats App Admin YNI)
  7. 021.8625728 (Office YNI)
  8. Selanjutkan akan di konfirmasi melalui secretariat Yayasan Nurul Ihsan

Mari ajak para muslimin yang lainnya, share dan sebarkanlah kebaikan.

Bolehkah Menggabungkan Niat Qurban Dengan Aqiqah_

Bolehkah Menggabungkan Niat Qurban Dengan Aqiqah?

Mengenai penggabungan niat qurban dengan aqiqah, para ulama berselisih dalam pendapat ini. Ada yang memperbolehkan dan juga menganggap tidak dapat digabungkan. Dan berikut ini para pendapat para ulama mengenai hal tersebut.

Pendapat pertama, berqurban tidak bisa digabungkan dengan aqiqah. Ini merupakan pendapat dari Malikiyah, Syafi’iyah dan salah satu pendapat Imam Ahmad rahimahullah.

Alasan dari pendapat pertama ini yakni antara lain bahwa qurban dan aqiqah merupakan dua ibadah yang berbeda, yang memiliki sebab dan maksud tersendiri. Aqiqah dilaksanakan sebagai tanda syukur kepada Allah karena telah diberikan seorang anak yang telah lahir sebagai amanah bagi yang mendapatkannya sedangkan qurban sebagi tanda menysyukuri hidup dan dilaksanakan pada hari idul adha. (Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1526, Multaqo Ahlul Hadits.)

Al Haitami mengatakan:

“Pendapat ulama Syafi’iyah, bahwa jika seseorang meniatkan satu kambing untuk qurban sekaligus aqiqah maka tidak bisa mendapatkan salah satunya. Inilah yang lebih kuat, karena masing-masing tersebut merupakan ibadah tersendiri. (Tuhfatul Muhtaj Syarh Al Minhaj, 41/172)

Dari Ibnu Hajar Al Haitami Al Makkiy dalam Fatawa Kubro, menjelaskan:

“Sebagaimana pendapat ulama madzhab kami sejak beberapa tahun silam, tidak boleh menggabungkan niat aqiqah dengan qurban. Karena yang dimaksudkan dalam qurban dan aqiqah adalah dzatnya (sehingga tidak dapat digabungkan dengan lainnya, pen). Begitu juga keduanya memiliki sebab dan maksud masing-masing. Qurban sebagai tebusan untuk diri sendiri sedangkan aqiqah sebagai tebusan untuk anak yang diharapkan dapat tumbuh  menjadi anak yang shaleh dan berbakti juga aqiqh dilaksanakan untuk mendoakannya. (Al fawata Al Fiqhiyah Al Kubro, 9/420).

Pendapat yang kedua, Qurban dan aqiqah boleh digabungkan. Boleh melaksanakan qurban sekaligus dengan niat aqiqah. Ini merupakan pendpat dari Imam Ahmad, Ulama Hanafiyah, Hasan Al Bashri, Muhammad bin Sirin dan Qotadah.

Dari Al Hasan Al Bashri mengatakan bahwa, “Jika seorang anak ingin disyukuri dengan qurban, maka qurban tersbeut bisa jadi satu dengan aqiqah.”  Lalu Hisyam dan Ibnu Sirin mengatakan, “Tetap dianggap sah jika qurban di gabungkan dengan aqiqah.” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 5/116).

Dari Al Bahuti, seorang ulama Hambali, mengatakan, “jika waktu aqiqah dan penyembelihan qurban bertepatan dengan hari Idul Adha, maka boleh melakukan aqiqah sekaligus dengan niat qurban atau melakukan qurban sekaligus dengan niat aqiqah. Sebagaimana jika hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, jika melakukan mandi jum’at sekaligus dengan niat mandi ‘Id atau sebaliknya.” (Syarh Muntahal Irodaat, 4/146).

Pendapat ini yang juga dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. Beliau mengatakan bahwa, “Jika berqurban dan aqiqah digabungkan, maka cukup dengan satu sembelihan atau satu rumah. Jadi, niatkan qurban untuk dirinya lalu qurban itu juga diniatkan untuk aqiqah.

Sebagian ulama berpendapat demikian, ada yang memberikan syarat bahwa aqiqah dan qurban tersebut atas nama si anak. Dan pendapat lain tidak diisyaratkan seperti itu. Jika seorang bapak berniat qurban, maka dia juga langsung diperbolehkan aqiqah untuk anaknya.” (Fatawa wa Rasa-il Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 6/136, Asy Syamilah). Dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim memperbolehkan jika qurban tersebut diniatkan sekaligus dengan aqiqah.

Hukum Menggabungkan Qurban Dengan Aqiqah

Dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya mengenai hukum menggabungkan niat qurban dengan aqiqah, apabila Hari Idul Adha bertepatan dengan hari ketujuh dari kelahiran anak. Syaik Muhammad bin Sholih Al Utsaimin menjawab, “Sebagian ulama berpendapat, jika hari Idul Adha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak, kemudian dilaksanakan Qurban, maka tidak perlu lagi melaksanakan aqiqah (artinya qurban sudah jadi satu dengan aqiqah). Sebagaimana juga jika seseorang masuk masjid  dan langsung melaksanakan shalat fardhu, maka tidak perlu lagi ia melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Karena dua ibadah tersebut adalah ibadah yang sama dan keduanya bertemu dalam waktu yang sama.

Namun, apabila memiliki kecukupan dalam rizki, maka hendaknya ia berqurban terlebih dahulu jika Idul Adha bertepatan dengan aqiqah dengan satu kambing lalu ditambah beraqiqah dengan satu kambing jika anaknya perempuan atau dengan dua kambing jika anaknya laki-laki. (
Majmu’ Fatawa wa Rosail Al ‘Utsaimin, 25/287-288, Darul Wathon-Dar Ats Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H)

Kesimpulan Dari Pemecahan Masalah

Dari dua pendapat diatas, dicondongkan pada pendapat yang pertama, yang bahwasanya penggabungan niat anatara aqiqah dan qurban tidak diperbolehkan, walaupun ibadah tersebut sejenis namun maksud dari zatnya berbeda maka dari itu tidak bisa digabungkan dengan satu dan lainnya. Karena pada pendapat pertamalah yang lebih hati-hati dan lebih selamat dari perselisihan yang ada.

Jika aqiqah bertepatan dengan qurban pada Hari Idul Adha, maka sebaiknya dipisah antara aqiqah dan qurban.

Bila kita mampu saat itu maka boleh dilaksanakan keduanya.

Tapi bila tidak mampu melaksanakan qurban dan qiqah secara bersamaan , maka diutamakan ibadah qurbannya karena bertepatan dengan hari Idul Adha dan waktunya pun sempit. Dan bila ada kelapangan rezeki barulah bisa menunaikan aqiqah.

wallahu ‘alam bisshawab

Bolehkah Seorang Istri Berqurban Sendiri_

Bolehkah Seorang Istri Berqurban Sendiri?

Ber- Qurban hukumnya ialah Sunnah muakkadah (ditekankan) bagi setiap muslim yang mampu baik laki-laki maupun perempuan. Bila seorang muslim telah mampu dalam melaksanakan perintah ini, maka laksanakan. Dari Syaikh Shalih Al-Munajjid, beliau mengatakan, yang artinya :

“الأضحية مشروعة للرجل والمرأة ، فمن كانت لديها القدرة على الأضحية استحب لها ذلك . وإذا ضحت المرأة فلتجعل أضحيتها عن نفسها وعن أهل بيتها ، فيدخل في ذلك زوجها”

Artinya: “ Qurban itu di syariatkan untuk laki-laki dan perempuan. Jika seorang wanita mampu untuk berqurban, maka disunnahkan baginya  berqurban. Jika ia berqurban, maka boleh baginya berniat untuk satu keluarga dan nantu suaminya masuk dalam pahala qurban.”
(Fatwa Al-Islam Sual Wa Jawab : 112264)

Lalu dari Syaikh ‘Abdul Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apakah qurban itu unutk satu keluarga atau ditujukan perintahnya untuk setiap individu dalam rumah yang telah baligh? Kapan qurban itu disembelih? Apakah disyariatkan bagi shahibul qurban untuk tidak memotong kuku dan rambut sebelum qurbannya disembelih? Apa yang harus dilakukan oleh wanita kalua dalam keadaan haid? Apa perbedaan anatar qurban dan sedekah dalam hal ini?

Berikut jawaban dari Syaikh Ibnu Baz, “Hukum qurban adalah Sunnah muakkad. Qurban disyariatkan pada laki-laki dan perempuan. Boleh seorang pria meniatkan qurban untuk keluarganya. Boleh juga wanita meniatkan untuk keluarganya. Karena setiap tahunnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban untuk dirinya dan anggota keluarganya. Sedangkan qurban yang 1 nya lagi beliau niatkan untuk umatnya.

baca artikel lainnya: Apa Hukumnya Patungan Qurban?

Apa Hukumnya Wanita Lajang Yang Mau Berqurban?

Seperti yang telah di sampaikan diatas bahwa berqurban dilakukan oleh setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan yang sudah mampu. Sama halnya juga untuk seorang wanita yang telah menikah ataupun belum menikah.  Dari Ibnu Hazm, beliau mengatakan:

“والأضحية للمسافر كما هي للمقيم ولا فرق , وكذلك المرأة ، لقول الله تعالى : (وَافْعَلُوا الْخَيْرَ) والأضحية فعل خير . وكل من ذكرنا محتاج إلى فعل الخير مندوب إليه , ولما ذكرنا من قول رسول الله صلى الله عليه وسلم في التضحية ولم يخص عليه السلام باديا من حاضر , ولا مسافرا من مقيم , ولا ذكرا من أنثى , فتخصيص شيء من ذلك باطل لا يجوز.”

Artinya: “ Berqurban boleh dilakukan bagi musafir, sebagaimana boleh dilakukan bagi mukim dan tidak ada bedanya. Demikian juga wanita. Sebagaimana yang telah Allah tegaskan: ‘Lakukanlah yang baik’. (QS. Al-hajj : 77). Dan berqurban termasuk amal baik. Semua jenis manusia yang kami sebutkan, yang butuh amal baik, dianjurkan untuk berqurban. Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang berqurban dan beliau tidak membedakan antara orang pelosok dengan orang kota, musafir dengan mukim, lelaki dengan wanita. Karena itu membeda-bedakan mereka adalah salah dan tidak diperbolehkan.”
(al-Muhalla 6:37)

Hukum Potong Rambut Dan Kuku Bagi Yang Berqurban

Aturan yang berlaku untuk perempuan yang hendak berqurban, sama halnya dengan yang lain. Larangan potong kuku, potong rambut, atau yang lain sebagainya. Berdasarkan hadits dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِى الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّىَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ”

Artinya: “Jika kalian telah menyaksiakn hila Dzulhijjah dan kalian ingin berqurban, maka hednaklah shohibul qurban membiarkan rabut dan kukunya.”
(HR. Muslim : 1977)

baca artikel lainnya : Bolehkah Qurban satu kambing untuk satu keluarga?

Dan dalam hadits lainnya diterangkan pula,

“مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ”

Artinya: “Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berqurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya.”
(HR. Muslim : 1977)

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Nurul

Online

Nurul

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00