Beranda » Agama Islam » 6 Macam Sunah Dalam Menjalankan Ibadah Puasa

6 Macam Sunah Dalam Menjalankan Ibadah Puasa

T Diposting oleh pada 24 May 2018
F Kategori ,
b Belum ada komentar
@ Dilihat 705 kali

Sunah-sunah puasa dalam ramadhan sangat dianjurkan untuk kita lakukan, karena dibulan ramadhan ini segala pahala baik kita akan dilipat gandakan oleh Allah SWT. Maka hendaklah kita menghidupkan sunah-sunah dalam berpuasa agar tercapainya puasa yang sempurna dengan pahala yang luar biasa.

Nabi muhammad SAW selalu mengerjakan sunah-sunah tersebut. Salah satunya ialah makan ketika sahur, sesungguhnya makan ketika sahur ialah sebagai pembeda puasanya orang muslim dengan puasanya orang yahudi-nasrani, dari Amr bin Ash ra, Rasulullah SAW bersabda :

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Perbedaan antara puasa umat muslim dan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur” (HR. Muslim : 1096)Sunah puasa dalam Ramadhan

Menghidupkan Ramadhan Dengan Sunah-Sunah Puasa

Menghidupkan http://yayasannurulihsan.org/marilah-kita-menyambut-ramadhan-dengan-suka-cita/Ramadhan dengan sunah-sunah dalam berpuasa ialah menjadi keharusan, bagaimana tidak? Karena semua memiliki hikmah dan keberkahan pahala yang terkandung didalamnya. Lalu apa sajakah sunah-sunah dalam menjalankan ibadah puasa tersebut? Berikut sajiannya :

  1. Mengakhiri Sahur

Makan sahur merupakan tanda bahwa agama islam selalu mendatangkan kemudahan bukan kesulitan. Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Barang siapa ingin berpuasa, maka hendaklah ia bersahur.” (HR. Ahmad)

Dan dalam sahur, disunahkan untuk mengakhirinya hingga menjelang fajar. Hal ini dapat dilihat dari hadis berikut. Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata: “Kami pernah makan sahur bersama Nabi. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, “Berapa lam jarak antara adzan Shubuh dan Sahur kalian?” Zaid menjawab, “Sekitar membaca 50 ayat.” (HR. Bukhari : 575 dan Muslim : 1097).

Dalam riwayat Bukhari dikatakan, “Sekitar membaca 50 atau 60 ayat.”

Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan, “Maksud sekitar membaca 50 ayat artinya waktu makan sahur tersebut tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat.” Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini adalah dalil bahawa batas makan sahur adalah sebelum terbit fajar.”

Lalu bolehkah makan sahur setelah waktu imsak? (sepuluh menit sebelum subuh)

Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah ditanya, “Beberapa organisasi dan yayasan membagi-bagikan Jadwal Imsakiyah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jadwal ini khusus berisi waktu-waktu shalat. Namun dalam jadwal tersebut ditetapkan bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum) adalah 15 menit sebelum adzan shubuh. Apakah seperti ini memiliki dasar dalam ajaran Islam?”

Syaikh rahimahullah menjawab:

“Saya tidak mengetahui adanya dalil tentang penetapan waktu imsak 15 menit sebelum adzan subuh. Bahkan yang sesuai dengan dalil Al-Qur’an dan As Sunah, imsak(yaitu menahan diri dari makan dan minum) adalah mulai terbitnya fajar(msuk waktu subuh). Dasar firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Dan dasarnya adalah sabda Nabi, yang artinya:

“Fajar ada 2 macam: pertama fajar diharamkan untuk makan dan dihallkan untuk shalat(yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu subuh) dan kedua fajar yang diharamkan untuk shalat subuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq).”

Dasarnya lagi, sabda Nabi:

“Bilal biasa mengumandangkan adzan dimalam hari. Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.” (HR. Buhkari : 623). Seorang periwayat hadits ini mengatakan bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta dn beliau tidaklah mengumandangkan adzan sampai ada yang memberitahukan padanya “Waktu subuh telah tiba, waktu subuh telah tiba.” (Majmu’ fatawa Ibnu Baz, 15/281-282)

  1. Menyegerakan Berbuka

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain juga disebutkan:

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

“Umatku akan sesantiasa berada diatas sunahku(ajaranku) selama tidak meunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu hibban dan Ibnu Khuzaimah). Dan inilah yag ditiru oleh Rafidhah(Syi’ah), mereka meniru yahudi dan nasrani dalam berbuka puasa. Merek baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah SWT melindungi kita dari kesesatan mereka.

Nabi kita Muhammad SAW biasa berbuka sebelum menunaikan shalat maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlak dari suri tauladan Nabi kita Muhammad SAW. Sebagaimana Anas bin Malik ra berkata, yang artinya, “Rasulullah SAW biasanya brebuka dengan ruthab(kuram basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthah, maka beliau berbuka dengan kurama tamr(kurma kering). Dan jika tida ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

  1. Berbuka Dengan Kurma Jika Mudah Diperoleh Atau Dengan Air

Dalilnya adalah hadits yang disebutkan di atas dari Anas. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika berbuka disunnahkan pula untuk berbuka dengan kurma atau dengan air. Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis-manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.

  1. Berdoa Ketika Berbuka

Ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya doa. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya, “Ada tiga orang yang daoanya tidak ditolak: (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Doa orang yang terdzalimi.” (HR. Tirmidzi : 2526 dan Ibnu Hibban 16/396)

  1. Memberi Makan Pada Orang Yang Berbuka

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurani pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga.”  (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

  1. Lebih Banyak Berderma Dan Beribadah Kepada Allah SWT

Dari Ibny Abbas ra, ia berkata, “nabi adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi dibulan Ramadhan yaitu ketika Jibril’alaihissalam menemui beliau. Jibril’alaihissalam datang menemui beliau pada setiap malam dibulan Ramadhan(untuk membaca Al-Qur’an) hingga Al-Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi. Apabila Jibril’alaihissalam datang menemuinya, beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari : 1902 dan Muslim : 2308)

Ibnu Qayyim Rahimahullah mengatakan, “Nabi lebih banyak lagi melakukan kebaikan dibulan Ramadhan. Beliau mempebanyak sedekah, berbuat baik, memebaca Al-Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.” (Zaadul Maad 2:25)

Dengan banyak berderma melalui memebri makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga. Dari Ali, ia berkata, Rasulullah bersabda, yang artinya, “Sesungguhnya disurga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab badui berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasulullah?” Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi : 1984)

Belum ada Komentar untuk 6 Macam Sunah Dalam Menjalankan Ibadah Puasa

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

a Artikel Terkait 6 Macam Sunah Dalam Menjalankan Ibadah Puasa

pola hidup sehat, gaya hidup sehat, hidup sehat ala rasulullah, sehat, sakit, mati

Larangan Pengobatan Selain Dengan Syariat Islam

T 27 April 2018 F , A WP-YNI

Menurut ilmu medis, sakit merupakan kondisi dimana tubuh mengalami penurunan daya tahan tubuh atau yang disebut imunitas. Bagi yang sedang sakit disarankan untuk memenuhi makanan yang sehat. Selain itu mereka juga dianjurkan untuk minum obat yang telah diberikan oleh dokter.... Selengkapnya

keutamaan bershalawat kepada Nabi

Apa Saja Keutamaan Bershalawat Kepada Nabi?

T 30 November 2018 F A WP-YNI

Salah satu refleksi dari kecintaan seseorang terhadap Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa salam ialah dengan banyak  dengan banyak bershalawat kepadanya. Perihal ini diperjelas  dalam Al-Quran surah Al-Ahzab ayat 56 yang  berbunyi: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ... Selengkapnya

keutamaan awal 10 hari dibulan Dzulhijjah

Apa Keutamaan Sepuluh Hari Dibulan Dzulhijjah?

T 18 July 2018 F A WP-YNI

Ada beberapa dalil yang menunjukkan adanya keutamaan pada sepuluh hari dibulan Dzulhijjah, yakni diantaranya. مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ «... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi sekretariat kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai kegiatan sosial kami.

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Apriliani

Online

Sekretaris

Rohmat Sidik

Online

Apriliani

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00

Rohmat Sidik

Assalamu'alaikum, Ada yang bisa kami bantu ? 00.00