Archive: February 26, 2019

Berbuat Baik Kepada Tetangga

Berbuat Baik Kepada Tetangga Dalam Islam

Manusia merupakan makhluk social. Mereka butuh beradaptasi dengan lingkungan dan juga membangun hubungan yang baik antar manusia agar terjalin keharmonisan dalam hubungan social. Tetangga, merupakan orang terdekat yang harus kita jaga hubungan baiknya. Karena tetanggalah orang pertama yang akan muncul lebih awal untuk menolong  ketika terjadi ketidakseimbangan atau masalah antar tetangga lainnya.

Interaksi antar tetangga sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari oleh seorang muslim. Allah subhanahuwata’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Artinya: “Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat ibnu sabil dan hamba sahaya..” (QS. An-Nisa:36)

Dan dalam sabda Nabi Shallallahu’alaihi wa  sallam menegaskan,

مَا زَالَ يُوصِينِى جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

Artinya: “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar memuliakan tetangga, sampai-sampai aku mengira seseorang akan menjadi ahli waris tetangganya.” (HR. Al-Bukhari no. 6014)

 Berbuat Baik Kepada Tetangga

3 Macam Tetangga Dan Hak-Haknya

Telah diriwayatkan oleh Abu Harairah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Artinya: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Dari Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Tetangga itu ada tiga macam: Tetangga yang hanya memiliki satu hak yakni orang musyrik, ia hanya memiliki hak tetangga. Tetangga yang memiliki dua hak, yakni seorang muslim, ia memiliki hak tetangga dan hak Islam. Dan tetangga yang memiliki tiga hak, yakni tetangga muslim memiliki hubungan kerabat, ia memiliki hak tetangga, hak Islam dan hak Silaturrahim.” (HR. At-Thabrani)

Hak-hak tetangga lainnya yakni,

  1. Tidak Menyakiti Tetangga Baik Dalam Perkataan Dan Perbuatan

Menyakiti tetangga merupakan suatu yang sangat tidak boleh dilakukan. Karena tetangga merupakan orang terdekat yang akan menolong kita dikala susah dan orang yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Tidak dianjurkan menyakiti dengan membicarakan kejelekannya atau menggunjing dibelakang dan perbuatan buruk lainnya. Terkadang ini merupakan suatu hal yang lumrah yang biasa dilakukan oleh ibu-ibu yang suka menggosip (ghibah), tentunya ini tidak baik untuk hubungan antar tetangga yang satu dengan yang lain

  1. Berbagi Masakan Dengan Tetangga

Bila kita memiliki rezeki lebih, maka hendaklah kita membaginya kepada tetangga kita untuk ikut menikmati nikmatnya berbagi.  Dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “ Wahai Abu Dzarr, jika engkau memasak masakan berkuah, maka prbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetanggamu.” (HR. Muslim )

Lalu juga dalam riwayat Muslim, dari Abu Dzar, dia berkata, “Sesungguhnya kekasihku berpesan kepadaku: ‘jika engkau memasak masakan berkuah perbanyaklah kuahnya, kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, maka berikanlah kepada mereka dengan baik’.”

  1. Menolong Tetangga Yang Tengah Kesusahan

Termasuk suatu kewajiban bagi kita dan hak bagi tetangga yang kesusahan untuk menerima bantuan atau sedekah dari kita. Bila tetangga kita kurang mampu dan dalam kesusahan hendaklah diberi bantuan. Dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Barang siapa yang menghilangkan kesulitan sesama muslim, maka Allah akan menghilangka darinya satu kesulitan dari berbagai kesulitan dihari kiamat kelak.” (HR. Bukhari)

 

Bagaimana Jika Tetangga Yang Menyakiti Kita?

untuk menyelesaikan masalah ini ialah cara terbaiknya dengan bersabar dan mendoakan orang tersebut agar bertaubat. Karena perbuatan menyakiti tetangga ialah salah satu dosa besar.  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Tidak masuk surga seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.” (HR. Bukhari : 6016 dan Muslim : 46). Pula dikeluarkan oleh Ahmad (3/156), Al – Hakim (1/11) dan Ibnu Hibbah (510) dengan sanad yang shahih dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Dan juga dikeluarkan oleh Al – Bukhari (6016) dari Abi Syuraih Al-Ka’bi.

Bersabar atas gangguan tetangga kepada kita, maka kita menjadi salah satu golongan yang Allah cintai. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Ada tiga golongan yang dicintai oleh Allah … dan seorang laki-laki yang mempunyai tetangga. Tetangga tesebut menyakitinya. Maka dia sabar atas gangguannya, hingga kematian atau kepergian memisahkan keduanya.” (HR. Ahmad)

Lalu, bagaimana dengan tetangga yang merasa tidak aman dari gangguan tetangga lainnya?

Dijelaskan dari Abu Syuraih radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Demi Allah, seseorang tidak beriman; Demi Allah, seseorang tidak beriman; Demi Allah, seseorang tidak beriman.” Ada yang bertanya. “Siapa itu Ya Rasulullah?”. Jawab Nabi SAW. “Yaitu orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari)

Hukum Hutang & Piutang Dalam Islam

Hukum Hutang & Piutang Dalam Islam

Hutang merupakan istilah dari Al-Qardh, yang artinya memotong sedangkan dalam artian menurut syar’i artinya memberikan harta dengan dasar kasih sayang kepada siapa saja yang membutuhkan bantuan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, yang mana pada suatu saat nanti harta tersebut akan dikembalikan lagi kepada orang yang telah memberikan bantuan.

Hukum hutang piutang didalam islam ialah boleh. Dijelaskan dalam Al-Qur’an, Allah subhanahuwata’ala berfirman,

مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya dijalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepadaNya lah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah : 245)

 Hukum Hutang & Piutang Dalam Islam

Syarat-Syarat Hutang Piutang Dalam Islam

Dalam hutang piutang pun, terdapat pula syaratnya. Dan berikut syarat-syarat hutang piutang,

  • Harta yang dihutangkan adalah jenis harta yang halal.
  • Harta yang dihutangkan tidak akan memberi kelebihan atau keuntungan pad apihak yang mempiutangkan (yang meminjam)
  • Pemberi hutang tidak mengungkit-ngungkit masalh hutang dan tidak menyakiti pihak yang berhutang.
  • Pihak yang meminjam niatnya adalah untuk mendapat ridho Allah dengan mempergunakan yang dihutang secara benar.

 

Bahaya Memiliki Sikap Hutang Piutang

hutang merupakan suatu prihal yang sangat sensitive diantara hubungan antara manusia. Walaupun hutang diperboleh kan oleh islam, seperti yang telah dijelaskan diatas yakni memiliki syarat dan terutama boleh berhutang asal dalam keadaan yang mendesak saja. Dan banyak orang yang berhutang namun tidak memiliki kendala ataupun kesulitan, inilah dampak buruk berhutang apabila yang berhutang lebih dulu meninggal dunia,.

Dan berikut beberapa bahaya lainnya dalam berhutang:

  1. Dapat Merusak Akhlak

Kebiasaan berhutang berdampak buruk pada akhlak seseorang, Karena berhutang akan menyebabkan kebiasaan seperti berbohong. Dan dapat memudahkan setan untuk mempengaruhi yang berhutang untuk melakukan cara buruk dengan mencuri ataupun merampok. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “ Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering berkata dusta dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Bukhari)

  1. Dapat Menyebabkan Beban Pikiran (Stress)

Berhutang menyebabkan seseorang menjadi setres, mereka akan merasa hina disiang hari karena dipandang rendah oleh orang lain dan merasa sedih dimalam harinya karena memikirkan cara agar dapat melunasi hutangnya. Ditambah kondisi yang tertekan dan stress menyebabkan pula orang tersebut lemas karena tidak nafsu makan, hidup tidak bergairah dan pikiran yang tidak karuannya. Bagi mereka yang ikhlas dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah, Allah senantiasa membantu walau dalam keadaan sesulit apapun. Namun tak jarang ada yang mengambil jalan buntu agar tidak memikirkan hutangnya lagi dengan bunuh diri atau membunuh. Naudzubillah Tsumma naudzubillah.

  1. Mendapat Ganjaran Bagi Yang Tidak Berniat Membayar

Orang yang berniat untuk tidak membayarnya, merupakan sebuah dosa besar yang dimana dapat  merusak kepercayaan antara pemberi hutang dengan yang berhutang. Maka Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam besabda, yang artinya, “ Barang siapa yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah pada hari kiamat dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Pahala Sebagai Pengganti Hutangnya

Dari Ibnu Umar, Rasulullah sahhallahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya dihari kiamat nanti, karena disana tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Dosanya Tidak Diampuni Sekalipun Dalam Keadaan Jihad

Dosa orang yang belum membayar hutang, lalu datanglah ajalnya maka hutangnya tidak dapat dihilangkan walaupun mati dalam keadaan jihad. Dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni oleh Allah, kecuali hutangnya.” (HR. Muslim)

  1. Ditundanya Masuk Surga

Dari Tsauban. Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa yang rohnya terpisah dari jasadnya dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya ia akan masuk surga, yaitu: bebas dari sombong, bebas dari khianat dan bebas dari tanggunggan hutang.”

Dalam islam, hukum hutang piutang ialah boleh. Namun, jangan jadikan hutang piutang menjadi suatu kebiasaan. selain mengakibatkan dampak buruk bagi diri sendiri tapi juga orang lain.

SYARAT-SYARAT SAH DAN RUKUN WUDHU

Syarat-Syarat Sah Dan Rukun Berwudhu

Syarat-Syarat Sah Dan Rukun Berwudhu

Wudhu merupakan perihal yang wajib dilakukan sebelum shalat. Wudhu sama dengan bersuci atau membersihkan diri dari kotoran atau najis-najis kecil yang menempel dikulit. Yang mana apabila bagus dan tertib wudhu kita insyaAllah shalat kita akan lebih berpahala. Maka dalam perlaksanannya, berwudhu memiliki syarat-syarat sah dan  rukun-rukun yang harus dilakukan dengan baik. Dan berikut merupakan syarat-syarat wudhu:

  1. Menggunakan air yang suci ketika berwudhu.

Air suci dan mensucikan merupakan air yang digunakan ketika berwudhu. Yakni air langsung dari aliran atau pancuran air. Air tersebut bukan bekas air cucian, air yang terkena sinar matahari dan air keruh yang menggenang. Dan air suci dan mensucikan yaitu:

  1. Air hujan;
  2. Air sumur;
  3. Air laut;
  4. Air sungai;
  5. Air telaga;
  6. Air salju; dan
  7. Air embun.

 

  1. Air yang digunakan bukanlah air dari hasil mencuri yakni harus halal

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil. (QS. An- Nisa : 29)

  1. Membersihkan benda-benda yang menempel pada kuku dan kulit yang dapat menghambat jalannya air dalam membasuh. Yakni, cat kuku atau tato. Seperti pada penjelasan dalam hadits berikut ini,

 

أَنَّ رَجُلًا تَوَضَّأَ فَتَرَكَ مَوْضِعَ ظُفُرٍ عَلَى قَدَمِهِ فَأَبْصَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : ارْجِعْ فَأَحْسِنْ وُضُوءَكَ ، فَرَجَعَ ثُمَّ صَلَّى

Artinya: “Ada seseorang yang berwudhu dan meninggalkan satu tempat dikakinya (tidak dibasuh), kemudian Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda melihatnya, dan beliau bersabda: “Kembali dan perbaiki wudhu kamu, maka dia kembali kemudian dia shalat.” (HR. Muslim)

SYARAT-SYARAT SAH DAN RUKUN WUDHU

 

Rukun-Rukun Dalam Berwudhu

Selain syarat-syarat sah dalam berwudhu, rukun-rukun wudhu juga harus dilakukan dengan tertib, yakni

  1. Niat

Dalam melakukan segala hal haruslah dilakukan dengan niat. Seperti dalam hadits riwayat berikut,

الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Semua perbuatan tergantung dengan niatnya dan balasan bagi tiap-tiap orang apa yang diniatkan.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

  1. Membasuh wajah (termasuk dengan berkumur-kumur dan istinsyaq)

 

كَانَ إِذَا تَوَضَّأَ أَخَذَ كَفًّا مِنْ مَاءٍ فَأَدْخَلَهُ تَحْتَ حَنَكِهِ فَخَلَّلَ بِهِ لِحْيَتَهُ وَقَالَ « هَكَذَا أَمَرَنِى رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ

Artinya: “Merupakan kebiasaan (Nabi Muhammad SAW) jika beliau akan berwudhu, beliau mengambil segenggam air kemudian air kemudian beliau basuhkan ke wajahnya sampai ke tenggorokannya, kemudian beliau menyela-nyela jenggotnya.” Kemudian beliau mengatakan, “Demikianlah cara berwudhu yang diperintahkan Robbkukepadaku.” (HR. Abu Dawud)

  1. Membasuh kedua tangan hingga kesiku

Membasuh kedua tangan dimulai dari tangan kanan lalu berlanjut kekiri. Mengalirkan air dari telapak tangan hingga ke siku. Dari hadits hasan, diriwayatkan oleh Muttafaqun ‘alaih,

 

ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُمْنَى إِلَى الْمَرْفِقِ ثَلاَثًا ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ الْيُسْرَى إِلَى الْمَرْفِقِ ثَلاَثًا

Artinya: “… kemudian beliau membasuh tangannya yang kanan dampai siku sebanyak tiga kali kemudian membasuh tangannya yang kiri sampai siku sebanyak tiga kali..”

  1. Mengusap kepala

 

ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى الْمَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ

Artinya: “Kemudian beliau membasuh mengusap kepala dengan tangannya, menyapunya kedepan dan kebelakang. Beliau memulainya dari bagian depan kepalanya ditarik kebelakang sampai ke tengkuk kemudian mengembalikannya lagi kebagian depan kepalanya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

  1. Membasuh kedua kaki

Membasuh kedua kaki dimulai dengan kaki kanan lalu dilanjutkan kekaki kiri, dibasuh hingga ke mata kaki. Dari hadits hasan, diriwayatkan oleh muttafaun ‘alaih yang artinya, “Kemudian beliau membasuh kedua kakinya hingga dua mata kaki…(HR. Muttafaqun Alaihi).

 

  1. Tertib

Berurutan dalam berwudhu sangat diwajibkan, dimulai dari membasuh wajah hingga kaki. tanpa ada yang terlewat baik disela-sela kulit maupun dikuku. Maka hendaknya orang yang shalat membersihkan diri dari tato yang menempel dikulitnya dan menghilangkan cat kuku yang masih menempel dikukunya. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Ada seseorang yang berwudhu lantas bagian kuku kakinya tidak terbasuh, kemudian Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Ulangilah, perbaguslah wudhunya.” Lantas dia pun mengulangi dan kembali untuk shalat.” (HR. Muslim : 243)

 

Hikmah Berwudhu Untuk Kesehatan Jasmani Dan Rohani

Berwudhu memiliki manfaat yang sangat luar biasa, berdasarkan penelitian dari Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater sekaligus neurolog yang berkebangsaan Austria. Menemukan sesuatu yang mengejutkan dari berwudhu yang dimana keselarasan air dengan wudhu di titik-titik syaraf membuat kondisi tubuh selalu sehat. Hingga beliau memustuskan untuk masuk islam dan berganti nama menjadi baron Omar Rolf Ehrenfels.

Hikmah wudhu yang lainnya juga dikatan oleh ulama fikih yang mengatakn bahwa berwudhu ialah upaya dari memelihara kebersihan jasmani dan rohani. Begitupun dari penyakit kulit yang dimana diserang ke kulit yang lebih banyak terbuka karena kurang dijaga kebersihannya. Maka tak ayal, daerah-daerah tempat wudhu ialah daerah yang rentan terkena kotoran atau debu-debu.

Hikmah kerohanian dari berwudhu seperti yang telah dijelaskan oleh Rasulullah, yang artinya, “Umatku nanti kelak pada hari kiamat bercahaya muka dan kakinya karena bekas wudhu.”.

Lalu dari Buya Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) dalam bukunya Lentera Hidup menuliskan keutamaan wudhu. “Sekurang-kurangnya 5x  dalam sehari-semalam setiap Muslim diperintahkan untuk berwudhu dan mengerjakan shalat. Meskipun wudhu belum lepas (batal), disunahkan pula memperbaharuinya. Oleh ahli tasawuf, diterangkan pula hikmah wudhu itu. Mencuci muka artinya mencuci mata, hidung, mulut, dan lidah kalau-kalau tadinya pernah berbuat dosa ketika melihat, berkata, dan makan.

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Nurul

Online

Nurul

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00