Tag: pengertian bulan muharram

keutamaan puasa asyura

Keutamaan Puasa Sunnah Asyura Di Bulan Muharram

Puasa merupakan salah satu perintah Allah bagi hambaNya, yang mana puasa merupakan bertujuan untuk menahan rasa haus, lapar dan nafsu manusia. Puasa wajib ialah puasa Ramadhan yang mana dikerjakan mendapat pahala yang berlipat ganda bila ditinggalkan tanpa sabab musabab yang jelas maka berdosa. Puasa dilain puasa wajib disebut puasa sunnah yang mana bila dikerjakan mendapat pahala apabila ditinggalkan tak apa-apa.

Dibulan Muharram terdapat puasa sunnah Asyura yang dimana bila dikerjakan akan dapat menghapus dosa kita setahun yang lalu. Dibulan Muharram disebut juga bulan Allah atau Syahrullah karena memiliki keutamaan yang banyak dan dilarang didalamnya untuk berbuat maksiat dan dosa.

Hal ini tertuang dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 36 yang artinya, “ Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dikeempat bulan itu.” (QS. At-Taubah:36)

keutamaan puasa asyura

Macam-Macam Keutamaan Puasa Sunnah Asyura

Puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram dan lebih baik diawali dengan puasa sehari sebelumnya yakni 9 Muharram. Puasa ini memiliki banyak keutamaan yang dapat diraih oleh umat muslim bagi yang melaksanakannya. Dan berikut macam keutamaan menjalankan puasa asyura.

  1. Puasa Dibulan Muharram Ialah Sebaik-Baik Puasa

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah-Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim : 1163)

  1. Puasa Asyura Dapat Menghapus Doa Setahun Yang Lalu

Dijelaskan dalam hadis shahih, dari Abu Qotadah Al Anshori, berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Artinya: “Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, “Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, “Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim : 1162)

  1. Keinginan Rasulullah Berpuasa tasu’ah (pada hari ke Sembilan)

Dari Ibnu Abbas radiyallahu’anhuma berkata bahwa ketika Nabi Muhammad Shallallu’alai wa sallam tengah melakukan puasa hari Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

 

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

Artinya: “Wahai Rasulullah, hari ini adlah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas Rasulullah menjawab,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Artinya: “Apabila tiba tahun depan-InsyaAllah- kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

Artinya: “belum sampai tahun depan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. muslim : 1134)

 

Dianjurkannya Menghidupkan Sunnah-Sunnah Rasulullah

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “Barang siapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Ibnu Majah :209, sanad nya lemah namun hadits ini di kuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna, maka dishahihkan oleh Syaikh al-Bani dalam kitab “Shahih Ibnu Majah” no. 17)

Dijelaskan pula dalam AL-Qur’an yang artinya, “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh balasanNya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al-Muzammil : 20). Berdasarkan dari hadits shahih dan ayat Al-Qur’an bahwa menghidupkan sunnah-sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam itu memiliki pahala yang luar biasa.

Kita sebagai umat terakhir, umat yang berada diakhir zaman hendaklah kita lebih mengenal jauh siapa Rasulullah? Kekasih Allah SWT yang dimana Allah janjikan untuknya Nabi Shallallu’alai wa sallam jaminan surga, namun walaupun sudah diberi jaminan Allah beliau tidak pernah meninggalkan perintah Allah dan terus melakukan kebaikan. Dan segala perbuatan atau ucapan Rasulullah merupakan suri tauladan yang harus kita tiru.

Karena disetiap tindakan dan ucapan beliau hanya mengarah kepada Allah SWT. Semoga kita dapat dan terus menjalani apa yang Rasulullah perintahkan, karena itu semua merupakan kebaikan yang akan menguntungkan bagi kita yang melaksanakannya.

pengertian bulan muharram

Pengertian Bulan Muharram Dalam Kalender Islam

Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam penanggalan kalender Hijriyah. Bulan Muharram dikenal juga bulannya Allah SWT, yang merupakan bulan yang masuk sebagai bulan haram atau bulan yang dilarang didalamnya berperang, berbuat dzalim dan berbuat kejahatan kepada sesama muslim. Yang dimana zaman dahulu sebelum datangnya Nabi Muhammad SAW bulan ini dikenal sebagai bulan Shafar Al-Awwal sedangkan Shafar dinamai Shafar Ats-Tsani.

Berasal dari kata Al-Muharram yang artinya waktu yang diharamkan, diharamkan yang dimaksud dialah dijelaskan disurat At-Taubah ayat 36,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Artinya : “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya ada empat bulan haram. Itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dikeempat bulan itu.” (QS. At-Taubah : 36)

Lalu diriwayatkan dari Abu Bakrah ra, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

… السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَان

Artinya: “Setahun terdiri dari dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram, tiga berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Al-Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak antara Jumada dan Sya’ban.” (HR. Bukhari : 3197 dan Muslim : 1679/4383)

pengertian bulan muharram

Bulan Muharram Bulannya Memuliakan Anak Yatim?

Bulan Muharram, walaupun termasuk ke dalam salah satu fadhilah yakni menyantuni anak yatim. Terkait itu, Allah SWT tidak menjelaskan secara rinci kapan untuk memuliakan anak yatim. Tapi hendaklah kita memuliakan anak setiap saat, karena mereka tidak hanya membutuhkan kasih saying dan perhatian kita hanya di bulan Muharram saja.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menyayangi anak yatim disetiap waktu, mereka yang membutuhkan kasih sayang serta kebutuhan sehari-hari haruslah kita membantu mencukupi kebutuhan mereka. Seperti yang Rasulullah telah lakukan, beliau menyayangi anak yatim setiap saat.

Dan dari Sahl bin sa’ad radhiyallahu’anhu, dia berkata : “ Rasulullah SAW bersabda. Artinya: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) disurga seperti ini”, kemudain beliau Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau Shallallau’alaihi wassalam, serta agak merenggangkan keduanya. (HR. Bukhari)

Dan di hadits lain. Berbahagialah orang-orang yang dirumahnya terdapat anak yatim karena Rasulullah memberikan jaminan pertama, memiliki pahala yang setara dengan orang berjihad. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Barang siapa yang mengasuh tiga anak yatim maka bagaikan bangun pada malam hari dan puasa pada siang harinya dan bagaikan orang yang keluar setiap pagi dan sore menghunus pedangnya untuk berjihad dijalan Allah. Dan kelak disurga bersamaku bagaikan saudara. Sebagaimana kedua jari ini yaitu jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Ibnu Majah)

 

Hikmah Memuliakan Dan Membahagiakan Anak Yatim

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin , tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An – Nisa : 36)

Ayat diatas menjelaskan bahwa kita harus berbuat baik kepada anak-anak yatim dan kepada sesama muslim lainnya. Allah melarang kita untuk sombong atas harta-harta yang kita miliki. Menciptakan kesadaran diri terhadap lingkungan sekitar salah satunya dengan menyantuni dan membahagiakan anak yatim.

Disampaikan dalam hadits lain yang berbunyi, yang artinya, “Barang siapa yang memelihara anak yatim ditengah kaum musslimin untuk memberi makan dan minum, maka pasti Allah memasukkannya kedalam surga, kecuali jika ia telah berbuat dosa yang tidak dapat diampuni.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah selalu mencontohkan yang baik-baik kepada umatnya, sebagai adab-adab perilaku umat muslim. menghidupkan segala sunnah-sunnah nya merupakan sesuatu yang belai sukai.

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Nurul

Online

Nurul

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00