Tag: memotong kuku

Keutamaan Dari Memotong Kuku Menurut Islam

Keutamaan Dari Memotong Kuku Menurut Islam

Kuku merupakan bagian tubuh manusia yang tumbuh di ujung jari. Kuku seperti gel lembut yang mati dan mengeras lalu terbentuk saat mulai tumbuh dari ujung jari. Kuku merupakan bagian tubuh yang kadang kala kita sepelekan dalam segi perawatan. Seperti di biarkan memanjang dan di berikan warna agar terlihat lebih cantik oleh sebagian perempuan. Tapi tahukah anda sebenarnya kuku yang panjang itu merupakan sarang dari bakteri?

Kuku yang panjangnya melebihi 3 cm dari ujung kuku terdapat penyebaran penyakit. Karena tangan kita kesehariannya memegang benda apapun. Di situlah kuku menjadi sarang penyakit. bukan hanya dari segi medis, dalam pandangan Islam-pun tidak di anjurkannya memanjangkan kuku. Penyebabnya selain menjadi sarang penyakit, kuku panjang juga bisa menjadi penyebab tidak sahnya bersuci. Karena kuku menghalangi jalannya aliran air agar menyentuh kulit seluruhnya.

Selain manfaat lainnya dari memotong kuku yakni menghindari dari penyakit yang bersarang di kuku, penyebab sahnya bersuci hal lainnya juga yakni menurut ajaran islam ialah bahwa di kuku yang panjang juga terdapat sarang setan. Setan menyembunyikan dirinya di dalam kuku-kuku yang panjang. Dalam hadits di jelaskan, Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat melalui kuku-kuku yang panjang” (HR. Ahmad).

Adab-Adab Memotong Kuku

Ada baiknya sebelum memotong kuku, persiapkanlah dahulu alat pemotong kuku (gunting kuku) yang tajam. Lalu ada cara dalam islam untuk memotong kuku yakni yang di jelaskan dalam kitab Almajmu adalah :

“Di Sunnahkan untuk memulai dari tangan kanan kemudian tangan kiri, dari kaki kanan kemudian kaki kiri”

Pendapat Imam Nawawi, yang di Sunnah dalam memotong kuku yaitu memotong kuku di mulai dari tangan kanan lalu pertama jari telunjuk kemudian jari tengah, manis kelingking dan terakhir jempol. Lalu di lanjutkan ke tangan kiri yang di mulai dari jari kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk dan yang terakhir jempol.

Lalu berikutnya pemotongan kuku jari kaki. Di sunnahkan di mulai dari jari kelingking sebelah kanan terus sampai jempol, lalu di lanjutkan kuku jari kiri yagn di mulai dari jari jempol ke jari kelingking.

Hal tersebut mengacu dalam katab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa:

“Tidak ada satu-pun hadits yang menjelaskan tantang tata tertib memotong kuku. Akan tetapi Imam Nawawi menegaskan bahwa dalam kitab Syarh Muslim, di sunnahkan untuk memulainya dari jari telunjuk tangan kanan, tengah, manis, kelingking dan jempol. Untuk jari tangan sebelah kiri di mulai dari jari kelingking, manis sampai jempol. Untuk kaki di mulai dari jari kelingking sebelah kanan sampai ke jempol dan kaki sebelah kiri di mulai dari jempol sampai jari kelingking.”

Waktu Yang Tepat Untuk Memotong Kuku

Menurut para ulama, ada waktu yang tepat untuk memotong kuku. Yakni pada hari senin, kamis dan jum’at menurut Imam Ibnu Qosim al-Ghazi, dalam kitabnya Hasyiyah al-Bajuri . Namun ada juga yang mengatakan bahwa memotong kuku di hari apapun tidak mengapa saat di rasa kuku sudah mulai memanjang menurut riwayat Abu Hurairah. Dan juga ada waktu yang di tentukan untuk memotong kuku dalam islam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “ Kami di beri batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, yaiutu itu semua tidak di biarkan lebih dari 40 malam.” (HR. Muslim : 258). Dan yang di maksud hadits ini ialah jangan membiarkan kuku ataupun bulu-bulu rambut memanjang lebih dari 40 hari (syarh muslim, 3:133)

Dan di sunnahkannya memotong kuku sebelum melaksanakan shalat Jum’at, di jelaskan dalam sebuah hadits,

“Adapun menurut Imam Asy-Syafi’e dan ulama-ulama asy-Syafi’eyah, Sunnah memotong kuku itu sebelum mengerjakan sembahyang Jum’at, sebagaimana di sunatkan mandi, bersiwak, memakao wewangian, berpakaian rapi sebelum pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Jum’at.” (HR. Muslim)

Benarkah Wanita Haid Tidak Boleh Potong Kuku_

Benarkah Wanita Haid Tidak Boleh Potong Kuku?

Banyak sekali pertanyaan perihal “Bolehkah wanita yang sedang haid potong kuku dan rambut?” bahkan ada pula yang mengatakan bahwa di larangnya potong kuku dan rambut saat haid karena potongan tersebut akan di pertanggungjawabkan di akhirat nanti. Analoginya, pada saat hari kebangkitan seluruh seluruh orang akan di kembalikan seperti semula ke tubuhnya secara sempurna. Jika ada anggota badan yang tertinggal sebab  di buang seperti kuku dan rambut yang dalam keadaan tidak suci maka akan di kembalikan dengan tidak suci juga.

Maka ini akan menjadi pertanggung jawaban bagi si fulanah karena tidak mencuci kuku dan rambut yang telah di potong. Maka benarkah demikian? Persoalan wanita yang tengah haid, junub atau nifas tidak di temui satupun pendapat ulama mengenai hal tersebut. Karena memang tidak di temukan dalilnya.

Ibnu Taimimah dalam kitabnya Majmu’ Al-Fatawa, pernah membahas persoalan ini, Ibnu Taimimah membantah jika memotong kuku dan rambut saat haid ada kaitannya dengan hari kebangkitan sebagaimana yang di isukan selama ini. Menurutnya, seorang Mukmin tidak boleh di sebut najis. Terdapat hadis yang menerangkan bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang islam itu tidak najis.” (HR. Bukhari Muslim).

Bahkan jika seorang mukmin yang sudah meninggalpun, jenazahnya tidak bisa di sebut najis (HR. Hakim). Karena, sebutan najis hanya di peruntukkan bagi orang kafir saja, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا ۚ وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberi kekayaan padamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. At – Taubah : 28)

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk memelihara kebersihan bagi wanita yang sedang haid atau nifas. Seperti memerintahkan untuk menyisir rambutnya yang bilamana di lakukan pasti terdapat rambut yang rontoh atau patah. Kejadian bersejarah, yakni ketiak istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Aisyah radhiyallahu anha, tengah menunaikan haji Wada bersama Rasulullah, ia mendapati dirinya haid. Lalu Rasulullah memerintahkan kepada Aisyah ra, “Uraikanlah rambutmu dan bersisirlah. Serta berihlal (talbiyah) dengan haji dan tinggalkan umrah.” (HR. Bukhari Muslim)

Syekh Ibnu Utsaimin dalam fatawa Az-Ziinah Wal Mar’ah, menyinggung perihal ini. Beliau membantah jika wanita yang tengah haid, nifas atau junub di larang untuk memotong kuku dan memotong rambut. Malahan orang yang tengah haid dan nifas di anjurkan memelihara kebersihan tubuhnya termasuk memotong kuku dan bercukur.

Beliau, Al-Utsaimin menambahkan pula, bahwa jika wanita yang sedang haid atau nifas tapi mengalami mimpi basah, maka mereka di anjurkan untuk mandi hadas besar atau janabat sebagaimana ia bersuci dari hadas besar. Sama hal nya jika ia bercumbu dengan suaminya tanpa jima’ yang sampai keluar mani, maka wanita tersebut harus tetap melakukan mandi janabat walaupun wanita tersebut dalam keadaan haid dan nifas.

Dari kitab Syarkh An-Nail Wa Syifai Alil karangan Muhammad bin Yusuf Al-Ibadhi menjelaskan pemahaman mengenai larangan wanita haid dan nifas untuk memotong kuku dan rambut tersebut sebagai perkara bid’ah. Yang di yakininya akan berpengaruh pada hari kebangkitan. Umat islam di larang untuk mengharamkan perkara yang di perbolehkan, sebagaimana di larang untuk memperbolehkan perkara yang di halalkan.

Rasulullah menegaskan lewat sebuah hadits shahih, “Sesungguhnya yang paling besar dosa dan kejahatannya dari kaum muslilmin adalah orang yang bertanya tentang hal yang tidak di haramkan, lantas hal tersebut menjadi di haramkan karena pertanyaannya tadi.” (HR. Bukhari). maka hukumnya memotong kuku dan bercukur itu di perbolehkan dan tidak bisa di katakan haram atau makhruh. Wallahu ‘alam.

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Nurul

Online

Nurul

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00