Tag: kisah inspiratif

menutupi kebohongan

Sepandai-Pandainya Menutupi Kesalahan Akan Tetap Tercium Baunya

menutupi kebohongan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Bau amat, nih!” Luqman berteriak kecil sambil menutupi hidungnya.

“Ah, tadi enggak bau kok!” Kilah Bang Herman. Dia enggak enak rumahnya mendadak bau. Semua yang ngumpul diruang tamunya juga mendadak tutp hidung.

“Tapi bener ya, emang bau tahi kucing…” kata Ustadz basuni.

Sejurus kemudian, Luqman mondar-mandir, sibuk mecari dari mana bau itu berasal.

“Mungkin dibalik sepatu kali,” kata Luqman.

Akhirnya, semua melihat sepatu masing-masing, termasuk Luqman juga. Tapi, kecuali Luqman, semua yang ada dirumah Bang Herman tidak melihat ada jejak tahi kucing disepatu mereka.

Hampir saja Luqman tertawa, tahi kucing itu ada dibawah sepatu dia! Pantes saja Bang Herman bilang tadi sebelum dia datang tidak ada bau tahi kucing. Namun karena terlanjur dan dari pada malu, Luqman tidak mengakui bahwa sepatunya yang bau tahi kucing.

“Ya udah, mungkin dilangit-langit, kali…” ucap Luqman sambil mengakhiri pencarian. Obrolan pun berlanjut seolah tak pernah ada cerita bau tahi kucing.

Dari kejadian sederhana tersebut terdapat empat hal yang dapat dipetik, yaitu:

  1. Sesuatu yang kotor itu bau, dan baunya akan terus mengikuti kemana pun kotoran tersebut melekat. Begitupun, dosa dan maksiat adalah kekotoran bagi hati, kekotoran dalam kehidupan manusia. Dan kekotoran itu membuat noda. Selama kekotoran itu tidak dihilangkan, selama itu pula noda tersebut tidak akan hilang. Persis seperti tahi kucing yang menempel disepatu tadi. Selama luqman tidak membersihkannya, kemanapun Luqman melangkah dengan sepatu itu, maka selama itu pula baunya akan tercium. Semakin lama tentu semakin bau. Kalau bdana kotor bisa mandi dengan sabun, jiwa yang kotor membasuhnya dengan ampunan dan rahmat ilahi.
  2. Kesalahan terbesar adalah tidak mengakui kesalahan. Adakalanya orang, tidak tahu bahwa ia sudah berbuat salah. Kewajiban orang terdekatnyalah untuk memberi tahu letak kesalahnya dan kewajiban dida pula menerima nasihat kebaikan. Ada lagi yang tahu bahwa dirinya salah, tapi dia tidak mau mengakui kesalahannya. Bisa karena kesombongannya, bisa karena malu. Sebenernya, tidak usah mengakui kesalahan, syaratnya kita mempunyai jiwa besar. Seorang yang pengecut tentu akan bersembunyi dibalik kesalahannya. Akhirnya, selamanya orang tersebut terkurung dengan kesalahannya. Semakin lambat kesalahannya dibenahi, akan semakin susah kesalahannya diperbaiki.
  3. Adalah kebiasaan manusia mencari kesalahan diluar dirinya dulu. Mencari kambing hitam atau berdalih. Ini merupakan kebiasaan yang akan merusak diri sendiri. Sebab introspeksi diri akan terlambat. Kebiasaan menuding orang lain, mengoreksi orang lain, akan membuat proses perbaikan diri menjadi agak lambat. Contohnya adalah pada kasus tahi kucingnya sepatu Luqman tadi. Coba kalau Luqman langsung mencari dulu akar permasalahannya dari dirinya dulu, tak perlu mencari-cari penyebab kesalahan kemana-mana. Ini akan menguras energy dan buang-buang waktu. Tidak jarang akan menimbulkan perpecahan. Karena jelas tidak aka nada yang bersedia mengaku salah. Carilah penyebab masalah dari diri kita dahulu, supaya kita berhenti berdalih, supaya kita berhenti mencari kambing hitam. Dan kita pun akan semakin cepat maju dan tercerahkan.
  4. Kerugian sebenernya buat yang tidak introspeksi diri. Bau badan misalnya, bila disadari lebih dulu oleh si yang punya badan, tentu tidak perlu malu ditegur oleh orang lain. Karena dia udah duluan pakai deodorant, misalnya, untuk menghilangkan bau. Jadi, tidak terlanjur tercium baunya. Tapi meskipun demikian, bila ditegur oleh orang lain, juga sebenarnya bukan kerugian. Kuncinya adalah menerima dan malah harusnya terima kasih sudah dikoreksi. Wallahu a’lam.
PEMIMPIN YANG PERHATIAN DAN PEDULI TERHADAP RAKYAT

Pemimpin Yang Perhatian Dan Peduli Dengan Rakyat

Ketika itu, Madinah dilanda krisis dan korban sudah banyak yang berjatuham. Ditambah dengan jumlah orang-orang miskin yang meningkat. Khalifah Umar Bin Khatab merasa paling bertanggung jawab terhadap musibah tersebut, memerintahkan para petugas untuk menyembelih hewan ternak yang akan dibagi-bagikan pada penduduk.

PEMIMPIN YANG PERHATIAN DAN PEDULI TERHADAP RAKYAT

Saat tiba waktu makan, para petugsa memberikan makanan untuk khalifah Umar Bin Khatab yang menjadi kegemarannya yakni punuk dan hati unta. Ini merupakan sudah menjadi kegemaran Khalifah Umar Bin Khatab sebelum masuk islam.

Lalu beliau bertannya, “Dari mana ini?” Tanya Umar.

“Dari hewan yang baru disembelih hari ini.” Jawab mereka.

“Tidak! Tidak!” kata Umar Bin Khatab sambil menjauhkan hidangan lezat itu dapi pandangannya. “Saya akan menjadi pemimpin paling buruk seandainya saya memakan daging lezat ini dan meninggalkan tulang-tulangnya untuk rakyat.”

Kemudian Khalifah Umar Bin Khatab memerintah salah seorang sahabat, “Angkatlah makanan ini dan ambilkan saya roti dan minyak biasa!” beberapa saat kemudian datang lah makanan yang telah diminta oleh Khalifah Umar Bin Khatab. Kemudian Umar menyantapnya.

Kisah yang dipaparkan Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya ar-Rijal haular Rasul itu menggambarkan betapa besar perhatian Umar terhadap rakyatnya. Bahkan peristiwa ini bukan hanya terjadi sekali saja. Dilain kisah tentang pertemuan Umar dengan seorang ibu bersama anaknya yang sedang menangis kelaparan. Ditengah lelapnya orang-orang tidur, Ia berkelilingin dan masuk ke sudut-sudut kota diMadinah. Ketika itu Umar bertemu denganseorang ibu dan anaknya yangs edang kelaparan. Lalu, Umar lah yang pergi mengambil makanan, beliau sendiri juga yang memanggulnya, mengaduknya dan memasaknya dan menghidangkannya untuk anak-anak itu.

Ketika kelaparan mencapai puncaknya, Khalifah Umar pernah disuguhi remahan roti yang dicampur dengan samin. Umar memanggil seorang badui dan mengajaknya makan bersamanya. Umar tidak menyuapkan makanan kemulutnya sebelum badui tersebut menyuapkan makanan ke mulutnya dahulu. Orang badui sepertinya sangat menikmati makanan yang dimakan bersama Umar, Umar bertanya, “Agaknya Anda tidak pernah merasakan lemak?”

“Benar” jawab badui itu. “Saya tidak pernah makan dengan samin atau dengan minyak zaitun. Saya juga sudah lama tidak menyaksikan orang-orang memakannya sampai sekarang.” Tambahnya.

Mendengar kata-kata badui tersebut, Kahlifah Umar bersumpah tidak akan makan lemak smapai semua orang hidup seperti biasa. Ucapan Umar benar-benar dibuktikan. Kata-katanya diabadikan sampai saaat itu. “Kalau rakyatku kelapara, aku ingin orang pertama yang merasakannya. Kalau rakyatku kekenyangan, aku ingin menjadi orang terakhir yang menikmatinya.”

Padahal pada saat itu Khalifah Umar bisa saja menggunakan fasilitas Negara, kekayaan Irak dan Syam sudah berada ditangan kaum muslimin. Tapi, Umar lebih memilih makan bersama rakyatnya.

Pada kesempatan lalin pula, Khalifah Umar bin Khatab menerima makan lezat dari seorang Gubernur Azerbeijan, Utbah bin Farqad. Namun begitu mengetahui makanan itu biasa disajikan untuk kalangan elit, Umar segera mengembalikannya kepada utusan yang mengantarkannya. Lalu, Umar berpesan “Kenyangkanlah lebih dulu rakyat dengan makanan yang biasa Anda makan.”

Dan sikap seperti ini tidak hanya dimiliki oleh Umar bin Khatab. Ketika mendengar dari Aisyah bahwa Madinah tengah dilanda kelaparan. Abdurrahman bin Auf yang baru saja pulang dari berniaga segera beliau membagikan hartanya pada masyarakat yang sedang menderita. Semua hartanya dibagikan.

Rasulullah saw bersabda, “Tidak beriman seseorang yang dirinya kenyang, sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Muslim)

Tapi ironis sekali, sikap ini justru tidak tertanam pada para pemerintah masa kini. Penderitaan yang dirasakan oleh masyarakat dan bangsa ini tidak bergerak cepat layaknya pemimpin terdahulu. Kebutuhan pokok yang sulit didapat karena harga naik dan menjadi pemicu meningkatnya jumlah orang-orang miskin. Bahkan, sedikit yang tergugah dan sebaliknya perilaku boros, suap, korupsi makin menjadi-jadi.

Disinilah peran mukmin sejati menunjukkan kepeduliannya dengan berinfaq, zakat, bersedekah dan membantu ornag-orang yang kelaparan dan kesusahan. Semoga kita menjadi muslim yang sadar akan lingkungan sekitar. Menyadari apa yang terjadi dengan bangsa ini. Mau merubah sikap buruk untuk menjadikan negeri yang makmur dan kaya.

Negara kita sangat kaya, kaya akan mineral dan pangan. Bumi menghasilkan banyak tanaman dan tumbuhan yang dapat kita nikmati. Namun semua kembali lagi kepada siapa kita dipimpin maka disitu menunjukkan keadaan kita sekarang ini.

Perbuatan Buruk Memadamkan Cahaya Kebaikan

Perbuatan Buruk Memadamkan Cahaya Kebaikan

Perbuatan Buruk Memadamkan Cahaya Kebaikan

“Perumpamaan mereka seperti orang yang memantik api. Ketika menjadi terang keadaan disekeliling mereka, Allah hilangkan cahaya tersebut dan meninggalkan mereka dalam kegelapan yang mereka tidak dapat melihat.” (QS. Al-Baqarah : 17)

“Ah, gagal terus” tutur Nanang agak frustasi. “Apa gara-gara saya dulu suka nipu, ya?” pikirnya, tapi dai sendiri masih kurang yakin. Nanang akui, dia banyak nyusahin orang, banyak ngebohongin orang, banyak ngerugiin orang. Tapi, apa bener itu yang membuatnya serba mentok?

Nanang merasa frustasi, karena pamannya nanang tidak jadi memberikan modal baginya untuk berdagang. Lantaran pamannya mementingkan anaknya terlebih dahulu yang mendapat pengumuman UMPTN ketimbang Nanang. Alhasil, Nanang tidak jadi berdagang.

Ketika Nanang datang untuk mengadu pada Cang Haji Muhidin apa yang terjadi belakangan ini dan apa yang tengah dia rasakan. Cang Haji membenarkan. “Selama kamu belum tobat, selama itu pula kamu akan kehilangan harapan demi harapan.”

“Kok, bisa?”

“Ya, perbuatan buruk yang dilakukan ditamsilkan Allah sebagai perbuatan yang dapat memadamkan cahaya. Ibarat memantik api, ketika mulai ada apinya, api itu mati. Dan begitulah seterusnya. Perbuatan buruk yang sedikit-sedikit dilakukan dapat menutup keberkahan langit dan mempersempit langkah.”

“Kan itu dulu (maksudnya, nipu) ?”

“Sudah lama enggak nipu, kan, tidak identic dengan sudah tobat. Begini, kalau kamu buang air besar, lantas kamu jalan begitu saja, alias enggak cebok, kira-kira bau enggak?

“Baulah, Cang!”

“Kan, udah enggak buang air lagi:”

“Ohh… gitu maksudnya. Jadi, harus tobat dulu, nih?”

“Cang Haji, sih, berpendapat begitu..”

Cang haji nerangin kalau kebanyakan berbuat dosa, hidup jadi gelap. Jadinya, susah kayak Nanang tadi, mau usaha apapun menjadi mentok. Masalah hadir silih berganti. Masih untung seperti Nanang yang cepat menyadari. Coba kalau enggak sadar? Akan semakin lama bangkitnya.

“Taspi, kamu juga harus berpikir positif. Kalaulah Allah kemudian belum memberikan kamu jalan setelah kamu bertobat, bawa saja ia kepada pemikiran bahwa mungkin itulah yang terbaik bagi kamu. Allah ‘kan, Maha Tahu yang terbaik. Yang tidak boleh putus adalah ikhtiar dan doanya. Cang Haji, sih, ngedoain supaya kamu cepat bangkit lagi. Enggak kayak orang yang mantik rokok pake korek api, yang setiap dpantik, tuh, korek mati lagi, mati lagi,” Cang Haji nambahin.

Nanang dasar, mungkin karena ia banyak nyusahin orang, kini kesusahan tersebut dipergilirkan Tuhan. Nanang juga sadar kalau mau membuka pintu langit harus dengan jalan tobat dulu, kaemudia ikhtiar lagi dan sabar. Bisa jadi, dia enggak ketemu-ketemu jalan sebab Allah Yang Maha Memberi Petunjuk belum berkenan memberikan jalan.

Jalan keluar milik Allah, begitu juga dengan jalan kemudahan, banyak milik Allah.

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Nurul

Online

Nurul

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00