Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Beranda » Puasa » I’tikaf Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

I’tikaf Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

T Diposting oleh pada 10 May 2019
F Kategori
b Belum ada komentar
@ Dilihat 304 kali

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah. Banyak sekali amalan kebaikan yang dapat kita lakukan di bulan Ramadhan ini. Karena melakukan amalan dibulan suci ini, Allah subhanahuwata ‘ala akan melipat gandakan pahala. Selain dari amalan lainnya dengan banyak membaca Al-Qur’an dan bersedekah, kegiatan lain yang tak lupa harus dilaksanakan yakni I’tikaf di masjid.

Lalu apa pengertian dari I’tikaf? I’tikaf secara Bahasa artinya menetap pada sesuatu. Berdasarkan secara harfiah berarti menetap dimasjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat. I’tikaf di masjid sebetulnya tidak hanya di laksanakan dibulan Ramadhan saja namun juga dilaksanakan diluar bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –pun juga mencontohkan hal ini.

I’tikaf di masjid lebih digiatkan dan dianjurkan pada sepuluh terakhir Ramadhan yang dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun lebih giat beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Hukum beri’tikaf ialah Sunnah tergantung dengan keadaan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’ anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua pulluh hari.” (HR. Bukhari no. 2044)

mengatakan bahwa, “Para ulama sepakat bahwa I’tikaf itu Sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan I’tikaf.”

Keutamaan-Keutamaan I’tikaf Di Sepuluh Terakhir Ramadhan

I’tikaf tentu tidak hanya berdiam diri di masjd, melainkan terdapat sesuatu yang dapat kita petik dari beri’tikaf di masjid. Selain berpahal juga mendatangkan kebaikan-kebaikan lainnya. Dan inilah beberapa keutamaan-keutamaan i’tikaf di masjid:

  • Khusuknya beribadah

Ketika kita beri’tikaf di masjid tentu kita akan merasakan ketenangan dalam beribadah. Dikelilingi oleh muslim lainnya yang juga merasakan khusuknya dalam beribadah, meningkatkan iman dan ibadah kita kepada Allah subhanahuwata ‘ala. Selama beri’tikaf pikiran kita hanya difokuskan untuk beribadah kepada Allah dengan cara yang benar dan sementara melupakan hal-hal yang berbau duniawi.

Melupakan fananya dunia yang sering kali menjerumuskan kita ke lubang kemaksiatan, dan dengan segala hiruk pikuk masalah yang tengah di alami. Maka terciptalah kenyamanan, kenikmatan dan kekhusuk’an dalam beribadahh

Ketika kita merasakan nikmatnya beribadah maka kebaikan-kebaikan akan selalu datang kepada kita, dan memudahkan kita untuk melakukan amalan-amalan kebaikan.

Baca Artikel lainnya : Ganjaran Pahala Puasa Di Bulan Ramadhan

  • Merenungkan dosa-dosa

Ketika seorang muslim yang khusuk dalam ibadahnya serta ketenangan dalam I’tikafnya, maka disitu kita akan menginstrospkesi diri selama kita masih hidup, apakah kebanyakan melakukan maksiat dan hal-hal yang Allah tak suka atau lebih banyak melakukan kebaikan. Ketika I’tikaf disinilah kita dapat merenungkan dosa-dosa kita, entah dosa yang disengaja maupun tidak disengaja. Lalu, memohon ampunan kepada Allah dengan ampunan yang seluas-luasnya.

Memohon ampunan atas kesombongan diri, lalai dalam shalat, berbuat tidak baik kepada sesama manusia dan lain sebagainya.

Apakah Wanita Boleh I’tikaf Di Masjid?

Baca Artikel lainnya : Amalan-Amalan Yang Dapat Menyia-nyiakan Puasa

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ketempat khusus I’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: kemudian Aiayah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama Rasulullah, maka beliau mengizinkannya.” (HR. Bukhari no. 2041)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Artinya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepulluh hari terakhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Belum ada Komentar untuk I’tikaf Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

a Artikel Terkait I’tikaf Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Amalan-Amalan Yang Dapat Menyia-nyiakan Puasa Ramadhan

Amalan-Amalan Yang Dapat Menyia-nyiakan Puasa

T 25 April 2019 F , A WP-YNI

Dibulan Ramadhan setiap muslim diwajibkan untuk melaksanakan puasa. Menahan haus dan lapar dimulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun tidak hanya untuk menahan haus dan lapar tapi juga menahan dalam melakukan segala maksiat atau perbuatan yang menjurus ke sia-siaan. Karena,... Selengkapnya

maaf lagi puasa

Pengertian Puasa Dan Macam Ketentuannya

T 9 April 2018 F A WP-YNI

Puasa merupakan arti dari kata Shaum dalam bahasa arab yang berarti menahan. Sedangkan menurut istilah ialah menahan dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa dari terbit fajar subuh hingga terbenamnya matahari (maghrib). Menahan sesuatu yang dapat membatalkan puasa seperti makan... Selengkapnya

Meninggal Dunia, Tapi Memiliki Hutang Puasa

Meninggal Dunia, Tapi Memiliki Hutang Puasa

T 20 May 2019 F , A WP-YNI

Barang siapa meninggal dunia tapi masih memiliki hutang puasa. Bagaimanakah puasanya bagi yang telah meninggal dunia? Diqodho’ oleh ahli waris nya atau kah tidak?. Para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini. Pendapat terkuat, harus dipuasakan oleh ahli warisnya baik puasa... Selengkapnya

+ SIDEBAR

Ada Pertanyaan? Silahkan hubungi sekretariat kami untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai kegiatan sosial kami.

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Apriliani

Online

Sekretaris

Rohmat Sidik

Online

Apriliani

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00

Rohmat Sidik

Assalamu'alaikum, Ada yang bisa kami bantu ? 00.00