Category: Hukum Islam

Apa Hukumnya Memakai Masker Ketika Sholat_

Apa Hukumnya Memakai Masker Ketika Sholat?

Shalat merupakan salah satu kewajiban umat muslim. Yang di mana menjadi perkara pertama yang di ungkap saat bangkit di hari kemudian. Di terima ibadahnya tergantung dengan tata cara sebelum saat dan sesudah shalat. Seperti yang di ketahui bahwa sebelum  melaksanakan shalat, kita di wajibkan untuk bersuci yakni dengan Wudhu. Wudhu merupakan kegiatan bersuci wajib sebelum di lakukannya shalat.

Namun bagaimanakah hukumnya memakai masker agar terhindar dari virus atau bakteri menular?

Iya, sekarang ini kita sedang di hadapkan dengan wabah virus pendemi COVID-19 atau yang di sebut virus corona. Virus corona menyebar melalui udara dengan jarak dekat dengan yang terjangkit virus, melalui droplets ketika bersin atau batuk dan dari benda-benda yang telah terkontaminasi dengan virus tersebut. Maka tidak sedikit orang yang shalat dengan menggunakan masker hidung agar tidak terhirup bakteri corona.

Agama tidak melarang pemakaian atribut ketika shalat, seperti peci, sorban, sajadah dan lain sebagainya, dan sekarang yang ramai di pakai khalayak banyak yakni masker. Tapi, Apa hukumnya memakai masker ketika shalat? Tindakan menutup mulut atau hidung di sebut dengan istilah Talatsum.

Para ulama bersepakat bahwa hukum memakai masker ketika shalat ialah makhruh. semua aturan di peruntukkan untuk laki-laki dan perempuan, tidak ada pengecualian. Kenapa di hukumi makruh? Di jelaskan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ فِي الصَّلَاةِ

Artinya: “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang menutup mulutnya ketika shalat.” (HR. Abu Daud : 643, Ibnu Majah : 966, Ibnu Hibban : 2353 dan di hasankan oleh Syuaib Al – Arnauth)

Dan bila sudah banyak yang melakukan hal tersebut ketika shalat menggunakan masker maka shalatnya sah dan tidak perlu di ulangi meskipun dilakukan dengan sengaja. Dijelaskan di bawah ini:

Dari An-Nawawi mengatakan,

ويكره أن يصلي الرجل متلثما أي مغطيا فاه بيده أو غيرها… وهذه كراهة تنزيه لا تمنع صحة الصلاة

Artinya: “ Makruh seseorang melakukan shalat dengan talatsum, artinya menutupi mulutnya dengan tangannya atau yang lainnya… makruh di sini adalah makruh tanzih (tidak haram), tidak menghalangi keabsahan shalat.” (Al-Majmu’ 3:179)

Namun, ada di antara kaidah yang di tetapkan oleh para ulama dalam Ushul Fiqh, di perbolehkannya memakai makser bila itu adalah kebutuhan. Asalkan bersih dan tidak ada najis maka sholat akan sah dan sebaliknya bila masker yang di gunakan untuk menutupi mulut atau hidung kita kotor maka shalat tidak sah.

Lalu dari Ibnu Abdil Bar mengatakan,

أجمعوا على أن على المرأة أن تكشف وجهها في الصلاة والإحرام، ولأن ستر الوجه يخل بمباشرة المصلي بالجبهة والأنف ويغطي الفم، وقد نهى النبي صلى الله عليه وسلم الرجل عنه. فإن كان لحاجة كحضور أجانب فلا كراهة، وكذلك الرجل تزول الكراهة في حقه إذا احتاج إلى ذلك

Artinya: “ Para ulama sepakat bahwa wanita harus membuka wajahnya ketika shalat dan ihram, karena menutup wajah akan mengjalangi orang yang shalat untuk menempelkan dahi dan hidungnya, dan menutupi mulut. Padahal Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam telah melarang lelaki untuk melakukan hal ini. Namun jika ada kenutuhan, misalnya ada banyak lelaki non mahrom, maka hukumnya tidak makruh. Demikian pula lelaki, hukumnya menjadi tidak makruh jika dia butuh untuk menutupi mulutnya.” (Al – Mughni, Ibnu Qudamah 1:432)

Hati-Hati Dengan Bahaya Dari Lisan

Hati-Hati Dengan Bahaya Dari Lisan

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala yang paling sempurna, manusia di berkahi dengan anggota tubuh yang sempurna serta panca indra yang luar biasa yang melekat pada setiap manusia. Salah satu panca indra yang sempurna ialah lisan dan lidah. Mulut memang memiliki ukuran yang lebih kecil di bandingkan dengan  anggota tubuh yang lainnya. Namun, mulut kita dapat menempatkan kita pada kebaikan yang menjurus pada surga serta keburukan lisan yang menjurus ke neraka.

Lisan kita dapat membawa kita pada kefaedahan dan kemalapetakaan. Maka perlulah ucapan yang akan kita keluarga di saring atau di pilih dulu. Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ

Artinya: “ Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa di pikirkan terlebih dahulu dan karenanya dia terlempar ke neraka sejauh antara jarak ke timur.” (HR. Bukhari 6477 dan Muslim 2988)

Dari penjelasan hadits di atas, bahwa pada dasarnya sebuah perkataan memiliki dampak yang besar dan bisa mendatangkan murka Allah pabila kita menyepelekan setiap perkataan yang keluar dari mulut kita.

Perkataan Menjadi Tanda Kepribadian Seseroang

Ada sebuah pepatah Arab mengatakan, “Sesungguhnya lisan ibarat binatang buas. Jika engkau ikat, niscaya ia menjagamu. Jika engkau lepas, niscaya ia menerkammu. Maka hednaklah engkau berkata sekedarnya dan hendaklah engkau berhati-hati dengannya.” Harus kita kunci ke dalam benak kita bahwa apa yang akan kita sampaikan kepada orang lain bila bermanfaat sampaikanlah bila terasa menganduk kemudhorotan maka tahanlah lisanmu untuk mengatakannya.

Dalam riwayat lain Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, yang artinya:

“ Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang terbaik atau diam.”

Lalu Imam An-Nawawi menjelaskan maksud hadits di atas dalam kitab hadits Arba’in. imam Nawawi berkata, “Imam Syafi’I menjelaskan bahwa maksud hadits ini ialah apabila seseorang hendak berkata, maka hendaklah ia berfikir dahulu. Jika di perkirakan ucapannya tidak akan membawa mudhorot, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi , jika di perkirakan ucapannya itu akan membawa kemudhorotan atau ragu apakah membawa mudhorot atau tidak, maka hendaknya ia tidak usah berbicara.”

Lalu sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam dari pada berbicara.”

Cara Menjaga Lisan Saat Berbicara

  1. Hindari berbicara tanpa berfikir dahulu

Ketika berbicara dengan orang lain baik kepada anak kecil maupun orang dewasa, hendaklah kita milah-milah perkataan yang akan kita ucapkan. Berfikir sebelum bertindak sama di berlakukan dengan berfikir sebelum berbicara.

  • Tidak berlebihan ketika berbicara

Cara menjaga lisan dari perkataan yang berlebihan ialah hanya berbicara yang di kira bermanfaat saja. Apabila berlebihan dalam berbicara tentu itu akan berpengaruh pada citra diri di mata orang lain.

  • Jangan memotong dan membantah pembicaraan

Seperti yang di ketahui bila dalam suatu organisasi atau rapat , tentu kita semua di perbolehkan mengeluarkan ide dan pendapat kita. bukan hal yang baik bila kita memotong pembicaraan  dan membantah apa yang di katakana saat orang lain masih berbicara. Merupakan suatu sikap yang tidak sopan di anggap sebagai seorang yang sombong.

  • Jangan menggunjing, menggibah dan memperolok orang lain

Ini merupakan salah satu masalah yang sering kita hadapi dalam hubungan social manusia. Agar dapat mendekatkan diri atau mengenal seseorang kita tanpa sadar membicarakan keburukan orang lain, mencemooh orang lain lalu memperolok orang lain. Ketika berteman atau dalam tahap menjalin tali silaturahim maka bicaralah hal yang bermanfaat serta jauhi membicarakan orang lain dalam hal keburukan.

  • Biasakan lisan kita membaca Al-Qur’an

Di jelaskan dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Di katakana pada orang yang sedang membaca Al-Qur’an: bcalah dengan tartil sebagaimana engkau dulu sewaktu di dunia membacanya dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu adalah pad akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dengan membiasakan lisan kita dalam melantunkan Al-Qur’an maka mampu membentengi diri kita dari perihal keburukan dalam lisan serta mampu membedakan mana dari akhlak yang terpuji dan tercela.

  • Biasakan lisan kita untuk berzikir

mulut atau lisan yang di biasakan untuk berzikir maka tidak ada baginya untuk membicarakan keburukan orang lain. lisannya menjadi penyelamatnya saat ia hanya berzikir menyebut nama Allah serta berat baginya membicarakan hal yang tidak perlu. Maka dari itu, jagalah lisan kita dari akhlak tercela dengan selalu mengucapkan kebaikan dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya.

Keutamaan Dari Memotong Kuku Menurut Islam

Keutamaan Dari Memotong Kuku Menurut Islam

Kuku merupakan bagian tubuh manusia yang tumbuh di ujung jari. Kuku seperti gel lembut yang mati dan mengeras lalu terbentuk saat mulai tumbuh dari ujung jari. Kuku merupakan bagian tubuh yang kadang kala kita sepelekan dalam segi perawatan. Seperti di biarkan memanjang dan di berikan warna agar terlihat lebih cantik oleh sebagian perempuan. Tapi tahukah anda sebenarnya kuku yang panjang itu merupakan sarang dari bakteri?

Kuku yang panjangnya melebihi 3 cm dari ujung kuku terdapat penyebaran penyakit. Karena tangan kita kesehariannya memegang benda apapun. Di situlah kuku menjadi sarang penyakit. bukan hanya dari segi medis, dalam pandangan Islam-pun tidak di anjurkannya memanjangkan kuku. Penyebabnya selain menjadi sarang penyakit, kuku panjang juga bisa menjadi penyebab tidak sahnya bersuci. Karena kuku menghalangi jalannya aliran air agar menyentuh kulit seluruhnya.

Selain manfaat lainnya dari memotong kuku yakni menghindari dari penyakit yang bersarang di kuku, penyebab sahnya bersuci hal lainnya juga yakni menurut ajaran islam ialah bahwa di kuku yang panjang juga terdapat sarang setan. Setan menyembunyikan dirinya di dalam kuku-kuku yang panjang. Dalam hadits di jelaskan, Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Potonglah (perpendek) kuku-kukumu. Sesungguhnya setan mengikat melalui kuku-kuku yang panjang” (HR. Ahmad).

Adab-Adab Memotong Kuku

Ada baiknya sebelum memotong kuku, persiapkanlah dahulu alat pemotong kuku (gunting kuku) yang tajam. Lalu ada cara dalam islam untuk memotong kuku yakni yang di jelaskan dalam kitab Almajmu adalah :

“Di Sunnahkan untuk memulai dari tangan kanan kemudian tangan kiri, dari kaki kanan kemudian kaki kiri”

Pendapat Imam Nawawi, yang di Sunnah dalam memotong kuku yaitu memotong kuku di mulai dari tangan kanan lalu pertama jari telunjuk kemudian jari tengah, manis kelingking dan terakhir jempol. Lalu di lanjutkan ke tangan kiri yang di mulai dari jari kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk dan yang terakhir jempol.

Lalu berikutnya pemotongan kuku jari kaki. Di sunnahkan di mulai dari jari kelingking sebelah kanan terus sampai jempol, lalu di lanjutkan kuku jari kiri yagn di mulai dari jari jempol ke jari kelingking.

Hal tersebut mengacu dalam katab Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar mengatakan bahwa:

“Tidak ada satu-pun hadits yang menjelaskan tantang tata tertib memotong kuku. Akan tetapi Imam Nawawi menegaskan bahwa dalam kitab Syarh Muslim, di sunnahkan untuk memulainya dari jari telunjuk tangan kanan, tengah, manis, kelingking dan jempol. Untuk jari tangan sebelah kiri di mulai dari jari kelingking, manis sampai jempol. Untuk kaki di mulai dari jari kelingking sebelah kanan sampai ke jempol dan kaki sebelah kiri di mulai dari jempol sampai jari kelingking.”

Waktu Yang Tepat Untuk Memotong Kuku

Menurut para ulama, ada waktu yang tepat untuk memotong kuku. Yakni pada hari senin, kamis dan jum’at menurut Imam Ibnu Qosim al-Ghazi, dalam kitabnya Hasyiyah al-Bajuri . Namun ada juga yang mengatakan bahwa memotong kuku di hari apapun tidak mengapa saat di rasa kuku sudah mulai memanjang menurut riwayat Abu Hurairah. Dan juga ada waktu yang di tentukan untuk memotong kuku dalam islam.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, “ Kami di beri batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, yaiutu itu semua tidak di biarkan lebih dari 40 malam.” (HR. Muslim : 258). Dan yang di maksud hadits ini ialah jangan membiarkan kuku ataupun bulu-bulu rambut memanjang lebih dari 40 hari (syarh muslim, 3:133)

Dan di sunnahkannya memotong kuku sebelum melaksanakan shalat Jum’at, di jelaskan dalam sebuah hadits,

“Adapun menurut Imam Asy-Syafi’e dan ulama-ulama asy-Syafi’eyah, Sunnah memotong kuku itu sebelum mengerjakan sembahyang Jum’at, sebagaimana di sunatkan mandi, bersiwak, memakao wewangian, berpakaian rapi sebelum pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Jum’at.” (HR. Muslim)

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Nurul

Online

Nurul

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00