Archive: May 20, 2019

Meninggal Dunia, Tapi Memiliki Hutang Puasa

Meninggal Dunia, Tapi Memiliki Hutang Puasa

Barang siapa meninggal dunia tapi masih memiliki hutang puasa. Bagaimanakah puasanya bagi yang telah meninggal dunia? Diqodho’ oleh ahli waris nya atau kah tidak?. Para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini. Pendapat terkuat, harus dipuasakan oleh ahli warisnya baik puasa nadzar maupun puasa Ramadhan. Pendapat ini dipilih oleh Abu Tsaur, Imam Ahmad, Imam Asy-Syafi’I, pendapat yang dipilih oleh An-Nawawi, pendapat para pakar hadits dan pendapat Ibnu Hazm (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/130-133)

Dalil dari pendapat ini adalah hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya.” (HR. Bukhari : 1952 dan Muslim : 1147)

Arti ‘waliyyuhu’ dalam hadits diatas ialah ahli waris. Namun hukum sebagai ahli waris tidaklah wajib, hanya di sunnahkan saja.

Lalu dari hadits lain Ibnu Abbas radhiyallahu, anhuma, beliau berkata, “Ada seseorang pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata,

“Ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia dan dia memiliki hutang puasa selama sebulan (dalam riwayat lain dikatakan: puasa tersebut adalah puasa nadzar), apakah aku harus mempuasakannya?” kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iya. Utang pada Allah lebih pantas engkau tunaikan.”

baca artikel lainnya : Bulan Ramadhan, Bulannya banyak baca Al-Qur’an

Cara Melunasi Utang Puasa Orang Yang Telah Meninggal Dunia

Dalil diperbolehkan melunasi utang puasa orang yang telah meninggal dunia dengan cara menunaikan fidyah (memberikan makan kepada orang miskin) adalah dengan beberapa riwayat beikut ini,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِى رَمَضَانَ ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَصُمْ أُطْعِمَ عَنْهُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ نَذْرٌ قَضَى عَنْهُ وَلِيُّهُ

Artinya: “ Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Jika seseorang sakit di bulan Ramadhan, lalu ia meninggal dunia dan belum lunasi utang puasanya, maka puasanya dilunasi dengan memberi makan kepada orang miskin dan ia tidak memiliki qodho;. Adapun jika ia memiliki utang nadzar, maka hendaklah kerabatnya melunasinya.” (HR. Abu Daud : 2401, shahih menurut Syaikh Al-Albani).

Dari penjelasan diatas, bahwa ahli warisnya-lah yang menggantikan untuk melunasi utang puasanya orang yang telah meninggal tersebut. Dan dapat dilakukan dengan 2 cara, yakni

  1. Membayar utang puasa dengan kerabatnya untuk melakukan puasa.
  2. Dapat dengan tunaikan fidyah atau artinya memberikan makan kepada orang miskin.

Adapun bentuk fidyah yang dilakukan dapat dengan memberikan makanan siap saji dengan memberikan satu bungkus makanan bagi satu hari tidak puasa. Atau bisa juga dengan ketentuan satu mud. Dari Abu Syuja’ rahimahullah, beliau berkata, “Barang siapa memiliki utang puasa ketika meninggal dunia, hendaklah dilunasi dengan cara memberikan makan (kepada orang muslim), satu hari tidak puasa dibayar dengan satu mud.”

baca juga yang lainnya : Sah kah orang yang puasa tapi tidak shalat?

Satu mud yang disebutkan diatas adalah ¼ sho’. Yang dimana satu sho’ ialah ukuran yang biasa dipakai untuk membayar zakat fitri. Satu sho’ yakni sekitar 2.5-3.0 kg seperti yang kita setorkan saat bayar zakat fitri. Namun satu mud ini bukanlah standar dalam tunaikan fidyah. Syaikh Mustafa Al-Bugho berkata, yang artinya, “Ukuran mud dalam fidyah di sini sebaiknya dirujul pada ukuran zaman ini, yaitu ukuran pertengahan yang biasa ditengah-tengah kita menyantapnya, yaitu biasa yang dimakan seseorang dalam sehari berupa makanan, minuman dan buah-buahan. Karena saat ini makanan kita bukanlah dalam jenis gandum, kurma maupun anggur dan sejenisnya. Dan fakir miskin saat ini biasa memakan roti atau nasi dan kadang mereka tidak menggunakan lauk daging ataupun ikan. Sehingga tidaklah tepat jika kita harus menggunakan ukuran yang ditetapkan oleh ahli fikih di masa dahulu. Karena apa yang mereka tetapkan adalah makana yang umu ditengah-tengah mereka. (At-Tadzhib. Hal 115)

Apakah Sama Cara Mengganti Puasa Dengan Orang Sakit?

Cara mengganti puasa orang sakit dengan orang yang telah meninggal dunia tentu berbeda. Orang yang telah meninggal dunia di gantikan puasanya dengan cara berpuasa baik Ramadhan maupun nadzarnya oleh kerabat dekatnya. Tapi untuk orang yang sakit tentu harus di qodho ketika kesehatan sudah membaik. Dia wajib menggantinya dengan puasa selama berapa hari puasa yang telah ditinggalkannya.

Namun, bila diketahui ia memiliki penyakit yang pasti tak sembuh maka ia sendiri dapat melunasinya dengan mengeluarkan fidyah atau memberi makan orang miskin selama ia meninggalkan puasa, satu hari satu orang yang diberi makan tanpa memerlukanm ahli waris selama ia masih hidup.

Semoga sajian singkat ini dapat bermanfaat bagi kaum muslimin yang membacanya. Aamiin

Sah Kah Orang Yang Puasa Tapi Tidak Shalat

Sah Kah Orang Yang Puasa Tapi Tidak Shalat?

Tidak bisa di pungkiri, tidak sedikit orang – orang muslim yang melaksanakan kewajiban berpuasa namun tidak melaksanakan shalat, bahkan sengaja melalaikan sholat tersebut. Mereka beranggapan bahwa shalat dan puasa merupakan urusan yang berbeda-beda. Jika salah satu tersebut ditinggalkan maka tidak apa-apa dan tidak berpengaruh terhadap yang lainnya.

Bahkan ada juga yang melaksanakan shalat tapi hanya di bulan Ramadhan saja. Apakah ada yang seperti ini? Hanya melaksanakan shalat di bulan Ramadhan karena tahu keutamaan dan pahala yang Allah berikan sangat banyak dan luas namun tidak dilakukan di waktu lain. Alias hanya berhenti di bulan Ramadhan saja.

Sesungguhnya Allah subhanahuwata ‘ala tidak menyukai orang-orang yang melakukan hal sedemikian. Yang hanya mengenal Allah di saat Ramadhan saja, dan mereka ialah termasuk kedalam sejelek-jeleknya suatu kaum yang hanya mengenal Allah ( rajin ibadah, pen) hanya di bulan Ramadhan saja.

Hukumnya Berpuasa Tapi Tidak Shalat

Lalu apa hukum nya bagi orang yang berpuasa namun tidak melaksanakan shalat 5 waktu?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah, pernah ditanya : “Apa hukum orang yang berpuasa namun meninggalkan shalat?”

Syaikh Muhammad bin Sholh Al ‘Utsaimin rahimahullah pun menjawab :

“Puasa yang di lakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat adalah kafor dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran,  Allah subhanahuwata ‘ala berfirman :

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ۗ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

 Artinya: “ Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (QS. At – Taubah : 11)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Artinya: “Pembatas antara seorang muslim dengan lesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 82)

Dan yang lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Artinya : “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barang siapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, An nasa’I, Ibnu Majah. Dikatakan shahuh oleh Syaikh Al-Albani)

Dikatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat disebut dengan kafir ini merupakan dari pendapat mayoritas sahabat Nabi dan dapat dikatakan sebagai ‘ijma atau kesepakatan para sahabat. Dari ‘Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy rahimahullah (merupakan seorang tabi’in yang sudah masyhur) mengatakan,

“Para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan dia kafir selain perkara shalat.” (HR. At-Tirmidzi. Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad nya ialah shohih. Lihat Ats – Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal 52, -pen)

Tidak Meninggalkan Shalat Maupun Puasa Wajib

Dari Imam Ahmad rahimahullah, mengatakan, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam islam adlah orang yang betuk-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam islam. Kadar islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.” (Lihat Ash Sholah, hal 12)

Dari yang telah dijelaskan diatas, apabila seorang muslim berpuasa tapi ia tidak melaksanakan shalat, maka puasanya dikatakan tidaklah sah atau tidak diterima. Amalan puasa yang dilakukannya tidak bermanfaat dikemudian hari. Laksanakanlah shalat, sholat merupakan pondasi atau tiangnya agama. Bila tidak dikerjakan sama halnya membangun hal yang sia-sia.

Mari kita perbaiki shalat kita, memohon ampun atas segala dosa (taubat nasuha) dan tidak lagi meninggalkan shalat. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kita dalam melaksanakan ketaatan-Nya.

I’tikaf Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

I’tikaf Di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah. Banyak sekali amalan kebaikan yang dapat kita lakukan di bulan Ramadhan ini. Karena melakukan amalan dibulan suci ini, Allah subhanahuwata ‘ala akan melipat gandakan pahala. Selain dari amalan lainnya dengan banyak membaca Al-Qur’an dan bersedekah, kegiatan lain yang tak lupa harus dilaksanakan yakni I’tikaf di masjid.

Lalu apa pengertian dari I’tikaf? I’tikaf secara Bahasa artinya menetap pada sesuatu. Berdasarkan secara harfiah berarti menetap dimasjid dengan tata cara yang khusus disertai dengan niat. I’tikaf di masjid sebetulnya tidak hanya di laksanakan dibulan Ramadhan saja namun juga dilaksanakan diluar bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –pun juga mencontohkan hal ini.

I’tikaf di masjid lebih digiatkan dan dianjurkan pada sepuluh terakhir Ramadhan yang dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun lebih giat beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Hukum beri’tikaf ialah Sunnah tergantung dengan keadaan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu’ anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا

Artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua pulluh hari.” (HR. Bukhari no. 2044)

mengatakan bahwa, “Para ulama sepakat bahwa I’tikaf itu Sunnah, bukan wajib kecuali jika seseorang mewajibkan bagi dirinya bernadzar untuk melaksanakan I’tikaf.”

Keutamaan-Keutamaan I’tikaf Di Sepuluh Terakhir Ramadhan

I’tikaf tentu tidak hanya berdiam diri di masjd, melainkan terdapat sesuatu yang dapat kita petik dari beri’tikaf di masjid. Selain berpahal juga mendatangkan kebaikan-kebaikan lainnya. Dan inilah beberapa keutamaan-keutamaan i’tikaf di masjid:

  • Khusuknya beribadah

Ketika kita beri’tikaf di masjid tentu kita akan merasakan ketenangan dalam beribadah. Dikelilingi oleh muslim lainnya yang juga merasakan khusuknya dalam beribadah, meningkatkan iman dan ibadah kita kepada Allah subhanahuwata ‘ala. Selama beri’tikaf pikiran kita hanya difokuskan untuk beribadah kepada Allah dengan cara yang benar dan sementara melupakan hal-hal yang berbau duniawi.

Melupakan fananya dunia yang sering kali menjerumuskan kita ke lubang kemaksiatan, dan dengan segala hiruk pikuk masalah yang tengah di alami. Maka terciptalah kenyamanan, kenikmatan dan kekhusuk’an dalam beribadahh

Ketika kita merasakan nikmatnya beribadah maka kebaikan-kebaikan akan selalu datang kepada kita, dan memudahkan kita untuk melakukan amalan-amalan kebaikan.

Baca Artikel lainnya : Ganjaran Pahala Puasa Di Bulan Ramadhan

  • Merenungkan dosa-dosa

Ketika seorang muslim yang khusuk dalam ibadahnya serta ketenangan dalam I’tikafnya, maka disitu kita akan menginstrospkesi diri selama kita masih hidup, apakah kebanyakan melakukan maksiat dan hal-hal yang Allah tak suka atau lebih banyak melakukan kebaikan. Ketika I’tikaf disinilah kita dapat merenungkan dosa-dosa kita, entah dosa yang disengaja maupun tidak disengaja. Lalu, memohon ampunan kepada Allah dengan ampunan yang seluas-luasnya.

Memohon ampunan atas kesombongan diri, lalai dalam shalat, berbuat tidak baik kepada sesama manusia dan lain sebagainya.

Apakah Wanita Boleh I’tikaf Di Masjid?

Baca Artikel lainnya : Amalan-Amalan Yang Dapat Menyia-nyiakan Puasa

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ ، وَإِذَا صَلَّى الْغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِى اعْتَكَفَ فِيهِ – قَالَ – فَاسْتَأْذَنَتْهُ عَائِشَةُ

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan. Apabila selesai dari shalat shubuh, beliau masuk ketempat khusus I’tikaf beliau. Dia (Yahya bin Sa’id) berkata: kemudian Aiayah radhiyallahu ‘anha meminta izin untuk bisa beri’tikaf bersama Rasulullah, maka beliau mengizinkannya.” (HR. Bukhari no. 2041)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Artinya: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepulluh hari terakhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Nurul

Online

Nurul

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00