Archive: April 25, 2019

Amalan-Amalan Yang Dapat Menyia-nyiakan Puasa Ramadhan

Amalan-Amalan Yang Dapat Menyia-nyiakan Puasa

Amalan-Amalan Yang Dapat Menyia-nyiakan Puasa Ramadhan

Dibulan Ramadhan setiap muslim diwajibkan untuk melaksanakan puasa. Menahan haus dan lapar dimulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun tidak hanya untuk menahan haus dan lapar tapi juga menahan dalam melakukan segala maksiat atau perbuatan yang menjurus ke sia-siaan. Karena, tidak sedikit kaum muslimin yang hanya melaksanakan puasa namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan hausnya. Dan ini  merupakan benar dikatakan oleh Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam dalam sabdanya:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR.Ath-Thobroniy dalam Al-kabir dan sanadnya tidak mengapa. Dari syaikh Al Albani dalam shohih At-Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirihi- yaitu shahih dilihat dari jalur lainnya).

Lalu, apakah penyebab puasanya kaum muslimin menjadi sia-sia? Padahal kita sudah bersusah payah menahan lapar dan haus selama seharian penuh. Apalagi kesia-sian tersebut terjadi selama puasa sebulan penuh? Astaghfirullah aladzim.. semoga puasa kita memiliki nilai dan pahala didalamnya. Dan apa saja yang membuat puasa kita menjadi sia-sia? Dan berikut penjelasannya.

Penyebab Sia-Sianya Puasa Yang Telah Dilakukan

Ada beberapa dan perkataan seorang muslim yang membuat puasanya tidak bernilai atau sia-sia. Bahwasanya bukan hanya menahan haus dan lapar saja, inilah penyebab sia-sianya puasa yang telah kita lakukan:

  1. Berkata Dusta (Az- Zuur)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

            Artinya: “ Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari : 1903)

As-Suyuri menjelaskan bahwa Az-Zuur ialah berkata dusta dan memfitnah. Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

  1. Berkata lagwu dan rofats

Amalan buruk yang membuat amalan puasanya orang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu (sia-sa) dan rofats (porno). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

Artinya: “ Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al-Albani dalam shahih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadist ini shahih)

Apakah yang dimaksud dengan lagwu dan rofats?

Dalam Fathul Bari (3/346), Al-Akhfasy mengatakan, “Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”

Lalu yang dimaksud dengan rofats dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan, “Istilah rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan yang keji.” Atau dengan kata lain ialah kata-kata porno.

  1. Melakukan perbuatan maksiat

Menyadari bahwasanya puasa tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga saja, namun juga menghindari perbuatan-perbuatan maksiat.

Dari Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus untuk kita ketahui, “Seandainya kamu berpuasa maka hendaklah pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal yang haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah dihari puasamu. Janganlah kamu menjadikan puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.

Maka, seburuk-buruknya puasa ialah yang hanya menahan lapar dan dahaganya saja, sedangkan maksiat selalu dilakukan. Ibnu Rojab mengatakan bahwa, “Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”

 

Pahala Tak Terhingga Didalam Puasa Ramadhan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya “Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipat gandakan menjadi 10 hingga 700x dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman , “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim : 1151).

Amalan selain puasa akan diganjar 10 hingga 700x. namun khusus untuk amalan puasa, Allah sendiri yang akan membalasnya. Lalu sebesar apakah balasan amalan puasa tersebut? Mari perhatikan penjelasan dari Ibnu Rojab dibawah ini:

“hadits diatas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla akan melipat gandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. Mengenai ganjaran sabar, Allah subhanahuwata’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar : 10)

Dan itulah amalan-amalan yang membuat puasanya seseorang menjadi sia-sia. Dan tidak dapat dipungkiri bahwasanya masih banyak orang-orang yang melakukan hal tersebut. Semoga puasa kita tidak menjadi sia-sia dan menjadi puasa yang berkah dan sarat akan kandungan pahala yang berlipat didalamnya. Aamiin

Marilah Kita Menyambut Ramadhan Dengan Suka Cita

Marilah Kita Menyambut Ramadhan Dengan Suka Cita

Marilah Kita Menyambut Ramadhan Dengan Suka Cita

Insya Allah, tinggal menghitung hari lagi kita akan memasuki bulan yang penuh dengan kemuliaan bulannya manusia berbondong-bondong untuk meraup pahala yang melimpah, ialah bulan puasa Ramadhan Dan bagusnya, semua orang sudah tidak sabar menanti datangnya bulan ramadhan. Semua orang bersuka cita menyambut datangnya bulan ramadhan. Bagaimana kita tidak bergembira karena telah dijelaskan dalam sebuah hadits shahih yang artinya,

“ Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim(neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Didalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad(2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991).

Karena memang dibulan suci ini Allah SWT ladang pahala, rahmat, ampunan , keberkahan dan lain sebagainya. Namun, pastinya semuanya membutuhkan usaha agar hasil yang kita dapat secara optimal kita raih saat bulan ramadhan datang nanti. Sudahkah kita menyiapkan diri dengan datangnnya bulan ramadhan ini?

Persiapan Menyambut Kedatangan Bulan Ramadhan

Sudahkah membuat persiapan diri untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan ?Jika belum berikut beberapa uraian untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan agar banyak yang kita raih dari keutamaan bulan in, berikut ulasannya :

  1. Berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh yang seperti di contohkan oleh ulama-ulama terdahulu. Yang mana mereka berdoa agar bertemu puasa Ramadhan semenjak enam bulan sebelumnya dan meminta kepada Allah SWT agar diterima puasanya semenjak enam bulan sesudahnya karena menjumpai Ramadhan merupakan suatu nikmat yang besar. Seperti yang telah dijelaskan oleh Mu’alla bin Fadhl, “Dulunya para salaf berdoa kepada Allah SWT (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan berikutnya agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka kerjakan.” (Lathaif Al-Ma’aarif : 174)
  2. Membayar hutang puasa yang telah dilakukan pada bulan puasa tahun lalu dengan menggantinya dengan puasa ganti atau mengqada’nya. Dan dilarang mengulur-ulur waktu berganti puasa bila tidak ada perihal halangan (udzur syar’i) maka ia berdosa. Dan bila melewatkan masa mengqada’ puasanya, maka setelah bulan Ramadhan selesai di wajib membayar puasa dengan mengqada’nya dan juga fidyah menurut sebagian ulama.
  3. Mempersiapkan diri dengan iman dan taqwa yang penuh terhadap Allah akan melahirkan kemantapan jiwa dalam memetik sepenuhnya dari ibadah bulan puasa. Yaitu dengan melatih diri dengan banyak-banyak berpuasa sunah Sya’ban. Dibulan sya’ban dapat menjadi momentum kita melatih diri untuk menyambut bulan Ramadhan. Seperti yang telah disampaikan oleh Aisyah ra, “ Aku belum pernah melihat Nabi SAW berpuasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat Nabi SAW berpuasa sebanyak yang ia lakukan dibulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim.
  4. Mempersiapkan fisik agar terus sehat hingga datang bulan Ramadhan dan tidak ada kendala melewatkan pahala di bulan puasa Ramadhan. Karena kesehatan merupakan faktor utama agar nyaman dalam beribadah, orang yang sehat dalam melakukan ibadah dengan lancar namun sebaliknya bila seseorang sakit maka terganggulah ia dalam menjalankan ibadahnya, mari kita semangat dalam berolahraga untuk menjaga vitalitas badan yang fit untuk menyambut puasa nanti.
  5. Mempersiapkan finansial memang diperlukan pada bulan ini. Karena dibulan ini kita dianjurkan memperbanyak sadaqah, infaq dan ifthar (memberi bukaan). Dan pastinya tanpa membebankan ekonomi keluarga. Maka dibuatlah agenda keuangan agar dapat mengalokasikan dana untuk sadaqah dan kebutuhan keluarga.
  6. Mempersiapkan ilmu (memahami fiqih Ramadhan). Ketika Ramadhan akan datang hendak lah kita mengkaji ilmu-ilmu fikih tentang puasa. Seperti yang di jelaskan oleh Mu’adz bin Jabl ra berkata, “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, karena mencari ilmu karena Allah adalah ibadah.” Dan Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah mengomentari atsar tersebut, “Orang yang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan ibadah, perusak-perusak amal, dan hal-hal yang menyempurnakannya dan apa-apa yang menguranginya.” Oleh sebab itu bila suatu amal perbuatan tanpa dilandaskan oleh ilmu, maka kerusakannya lebih banyak dibandingkan dengan kebaikannya.
  7. Menyelenggarakan tarhib Ramadhan, tarhib Ramadhan ialah mengumpulkan kaum muslimin dimasjid untuk diberi arahan mengenai puasa, syarat-syarat dan adabnya. Seperti yang Rasulullah SAW lakukan, beliau memberi arahan kepada para sahabatnya. Abu Huraira ra berkata, “Menjelang kedatangan bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda, “Telah datang kepada kamu syahrun mubarak (bulan yang diberkahi). Diwajibkan kamu berpuasa padanya. Pada bulan tersebut pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, syaitan-syaitan dibelenggu. Padanya juga terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu blan, barang siapa yang terhalang kebaikan pada malam itu, maka ia telah terhalang dari kebaikan tersebut.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi).

 

Hikmah Menyambut Bulan Ramadhan Dengan Suka Cita

Marilah kita ajak saudara-saudara kita agar kita selalu siap siaga dalam menyambut bulan Ramadhan yang sudah diambang pintu ini dengan hati yang gembira dan menyiapkan diri untuk beribadah dengan optimal, agar Allah SWT menerima segala ibadah kita nanti. Karena sungguh banyak keutamaan hikmah dibulan ini.

Sekali lahi marilah kita mengendalikan diri dengan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, karena walaupun syaitan-syaitan dibelenggu namun didalam diri manusia itu sendiri terdapat akal pikiran yang dapat menghantarkan kita keperbuatan yang tidak baik atau membuang-buang pahala yang seharusnya kita dapatkan secara penuh.

Semoga kita dapat segera bertemu dengan Ramadhan yang sebentar lagi akan kita jumpai, persiapkan segala halnya menjadi matang. Agar terealisasikan segala persiapan yang telah kita buat. Dengan izin Allah SWT, pula keikhlasan hati meraih RahmatNya, HidayahNya, AmpunanNya dan segala ladang pahalaNya. Aamiin Aamiin Ya Robbal’aalamiin.

Keutamaan Orang Tua Mengajarkan Al-Quran Kepada Anaknya

Keutamaan Orang Tua Mengajarkan Al-Quran Kepada Anaknya

Keutamaan Orang Tua Mengajarkan Al-Quran Kepada Anaknya

Orang tua yang mengajarkan anaknya Al-Qur’an merupakan sebuah keutamaan. Karena orang tualah sekolah pertama bagi anak. Anak-anak tersebut akan meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Sebab itu, mengajarkan anaka dengan hal-hal yang baik merupakan kewajiban orang tua kepada anak-anaknya termasuk mengajarkan Al-Qur’an.

Al-Qur’an merupakan sebuah kitab sebagai penuntun hidup manusia, Al-Qur’an diturunkan oleh Allah subhanahuwata’ala sebagai cahaya pembeda antara kebenaran dan kebathilan. ketika seorang anak dapat mengambil pembenaran dari Al-Qur’an yang dapat membedakan mana baik dan buruk serta dapat mengamalkannya, Allah subhanahuwata’ala menjamin keberkahan di akhirat kelak bagi orang tuanya.

Orang tua memiliki kewajiban untuk membimbing anak-anaknya nanti, sebagaimana Allah subhanahuwata’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, periharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjkan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6)

 

Anjuran Orang Tua Mengajarkan Al-Qur’an Pada Anak

Para orang tua dihimbau agar dapat mengajarkan anaknya untuk bisa membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, hal ini merupakan salah satu hak anak atas orang tua selain yang dua, yakni :

“Hak anak atas orang tua nya ada tiga: pertama memilihkan anak nama yang baik ketika baru lahir, mengajarkan Kitabullah (Al-Qur’an) ketika mulai berfikir dan menikahkannya ketika dia dewasa.” (HR. Ahmad).

Memberikan pendidikan Al-Qur’an sedini mungkin merupakan tindak pencegahan. Anak-anak yang tidak dibekali pendidikan Al-Qur’an besar kemungkinan anak tersebut dapat menjadi sebuah keburukan bagi orang tuanya, seperti anak tersebut tidak tahu adab ke orang tua, berani, dan pasti anak tersebut berada di jalan yang sesat yang dapat menjerumuskan orang tuanya sendiri ke dalam neraka.

Pendidikan sedari dini itu memiliki pengaruh yang lebih kuat dan lebih membekas dibanding memberikan pedidikannya ketika sudah dewasa, ibarat kata pepatah:

“Adalah berguna mendidik anak di waktu kecil dan terkadang berguna mendidik anak di waktu dewasa. Adalah mudah meluruskan ranting yang bengkok dan tidak lah mudah meluruskan jika telah menjadi batang.”

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mengajarkan anaknya membaca Al-Qur’an, maka dosa-dosanya yang akan datang dan yang telah lalu akan diampuni. Dan barang siapa mengajarkan anaknya sehingga menjadi hafizh Qur’an, maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan wajah yang bercahaya seperti cahaya bulan purnama, dan dikatakan kepada anaknya, ‘Mulailah membaca Al-Qur’an’. Ketika anaknya mulai membaca satu ayat dari AlQur’an, ayahnya dinaikkan satu derajat, hingga terus bertambah tinggi sampai tamat bacaannya.” (HR. Thabrani)

Lalu dari Mu’adz Al-Juhani, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya apa yang terkandung didalamnnya, maka kedua orang tuanya akan dikenakan mahkota pada hari kiamat yang cahayanya melebihi cahaya matahari seandainya ada di dalam rumah-rumah kalian di dunia ini, maka bagaimanakah perkiraanmu mengenai orang-orang yang mengamalkannya?” (HR. Ahmad)

Dari Burairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, maka akan di pakaikan kepadanya sebuah mahkota yang terbuat dari nur. Dan kedua orang tuanya akan dipakaikan dua pasang pakaian yang indah tiada bandinganya didunia ini. Orang tuanya akan bertanya kepada Allah subhanahuwata ‘ala, “Ya Allah, mengapa kami diperlakukan seperti ini?” Jawab Allah, “Ini adalah pahala bacaan Al-Qur’an anakmu.”

Manfaat Al-Qur’an Yang Diajarkan Pada Anak

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup kaum muslimin. Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup manusia yang mengharahkannya ke arah yang haq. Tanpa Al-Qur’an hidup kita akan berantakan, tidak mempunyai tujuan hidup, banyak melakukan penyimpangan ajaran dalam hidup, jauh dari norma-norma agama dan lain sebagainya. Sungguh ini merupakan sebuah bencana apabila anak-anak kita nanti hidup tanpa tau tujuan hidup yang sebenarnya.

Ketika kita risau anaknya nanti tidak bisa mendapat nilai bagus dipelajaran umumnya, dan kita memberikan pelajaran tambahan kepadanya dengan mengeluarkan uang yang banyak maka seharusnya kita lebih risau lagi pabila anak tidak bisa baca Al-Qur’an dan shalat. Karena, tatkala mereka jauh dari Al-Qur’an maka yang akan menjadi temannya ialah setan yang terus menggodanya ke dalam hawa nafsu duniawi.

Allah subhanahwata’ala berfirman:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ. وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ.

Artinya: “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (QS. Az-Zukhruf : 36-37).

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Nurul

Online

Nurul

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00