Archive: October 28, 2018

Perbuatan Buruk Memadamkan Cahaya Kebaikan

Perbuatan Buruk Memadamkan Cahaya Kebaikan

Perbuatan Buruk Memadamkan Cahaya Kebaikan

“Perumpamaan mereka seperti orang yang memantik api. Ketika menjadi terang keadaan disekeliling mereka, Allah hilangkan cahaya tersebut dan meninggalkan mereka dalam kegelapan yang mereka tidak dapat melihat.” (QS. Al-Baqarah : 17)

“Ah, gagal terus” tutur Nanang agak frustasi. “Apa gara-gara saya dulu suka nipu, ya?” pikirnya, tapi dai sendiri masih kurang yakin. Nanang akui, dia banyak nyusahin orang, banyak ngebohongin orang, banyak ngerugiin orang. Tapi, apa bener itu yang membuatnya serba mentok?

Nanang merasa frustasi, karena pamannya nanang tidak jadi memberikan modal baginya untuk berdagang. Lantaran pamannya mementingkan anaknya terlebih dahulu yang mendapat pengumuman UMPTN ketimbang Nanang. Alhasil, Nanang tidak jadi berdagang.

Ketika Nanang datang untuk mengadu pada Cang Haji Muhidin apa yang terjadi belakangan ini dan apa yang tengah dia rasakan. Cang Haji membenarkan. “Selama kamu belum tobat, selama itu pula kamu akan kehilangan harapan demi harapan.”

“Kok, bisa?”

“Ya, perbuatan buruk yang dilakukan ditamsilkan Allah sebagai perbuatan yang dapat memadamkan cahaya. Ibarat memantik api, ketika mulai ada apinya, api itu mati. Dan begitulah seterusnya. Perbuatan buruk yang sedikit-sedikit dilakukan dapat menutup keberkahan langit dan mempersempit langkah.”

“Kan itu dulu (maksudnya, nipu) ?”

“Sudah lama enggak nipu, kan, tidak identic dengan sudah tobat. Begini, kalau kamu buang air besar, lantas kamu jalan begitu saja, alias enggak cebok, kira-kira bau enggak?

“Baulah, Cang!”

“Kan, udah enggak buang air lagi:”

“Ohh… gitu maksudnya. Jadi, harus tobat dulu, nih?”

“Cang Haji, sih, berpendapat begitu..”

Cang haji nerangin kalau kebanyakan berbuat dosa, hidup jadi gelap. Jadinya, susah kayak Nanang tadi, mau usaha apapun menjadi mentok. Masalah hadir silih berganti. Masih untung seperti Nanang yang cepat menyadari. Coba kalau enggak sadar? Akan semakin lama bangkitnya.

“Taspi, kamu juga harus berpikir positif. Kalaulah Allah kemudian belum memberikan kamu jalan setelah kamu bertobat, bawa saja ia kepada pemikiran bahwa mungkin itulah yang terbaik bagi kamu. Allah ‘kan, Maha Tahu yang terbaik. Yang tidak boleh putus adalah ikhtiar dan doanya. Cang Haji, sih, ngedoain supaya kamu cepat bangkit lagi. Enggak kayak orang yang mantik rokok pake korek api, yang setiap dpantik, tuh, korek mati lagi, mati lagi,” Cang Haji nambahin.

Nanang dasar, mungkin karena ia banyak nyusahin orang, kini kesusahan tersebut dipergilirkan Tuhan. Nanang juga sadar kalau mau membuka pintu langit harus dengan jalan tobat dulu, kaemudia ikhtiar lagi dan sabar. Bisa jadi, dia enggak ketemu-ketemu jalan sebab Allah Yang Maha Memberi Petunjuk belum berkenan memberikan jalan.

Jalan keluar milik Allah, begitu juga dengan jalan kemudahan, banyak milik Allah.

Pengertian Istighosah

Pengertian Dari Istighosah Secara Bahasa dan Harfiah

Pengertian Istighosah

Istighosah berasal dari kata الغوث (al-ghouts) yang artinya pertolongan. Dan dalam tata bahasa Arab kalimat yang mengikuti pola (wazan) ‘istaf’ala’  استفعل atau ‘istif’al’ yang artinya permintaan atau pertolongan.

Maka pengertian Istighosah ialah berarti meminta pertolongan. Seperti kata غفران (ghufran) yang artinya ampunan. Namun ketika dikaitkan pola istif’al menjadi istighfar yang berarti memohon ampunan. Maka, Istighosah berarti طلب الغوث (thalabul ghouts) atau meminta pertolongan

Namun para ulama membedakan antara istighosah dengan istianah استعانة, walaupun secara bahasa arti keduanya memiliki kurang lebih sama. Dikarenakan isti’anah juga pola istif’al yang berasal dari kata “al-aun” العون yang artinya “thalabul aun” طلب العون yang juga memiliki arti meminta pertolongan. Dan pengertian istighosah ialah meminta pertolongan saat dalam keadaan yang berat dan sulit. Sedangkan untuk isti’anah artinya meminta pertolongan dengan arti yang lebih luas dan juga umum.

Istighosah dan isti’anah terdapat didalam nushushusy syariah atau teks-teks Al-Qur’an atau hadits Nabi Muhammad SAW. Dan didalam surat disebutkan bahwa,

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

Artinya: “ (Ingatlah wahai Muhammad), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu Dia mengabulkan permohonanmu.” (QS. Al – Anfal : 9).

Ayat diatas menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ memohon bantuan kepada Allah SWT ketika beliau berada di tengah berkecamuknya perang badar yang dimana musuh memiliki kekuatan 3x lipat lebih besar daripada pasukan islam. Lalu Allah kabulkan permohonan Nabi ﷺ dengan mengirim tambahan 1000 pasukan malaikat.

Apa Hukum Beristighosah Menurut Para Ulama?

Arti dari istighosah ialah memohon pertolongan Allah SWT, bukan sekedar doa yang biasa kita lakukan tapi doa yang menjurus ke sebuah kajaiban. Ketika dalam keadaan sulit dan sukar maka istighosah merupakan tempat berkumpulnya zikir-zikir, wirid-wirid dan doa-doa tertentu yang dibaca secara berjama’ah dan dipimpin oleh imam istighosah untuk terlepas dari bala bencana.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahuwa ta’ala dengan mengangkat tangan?”

Maka berliau menjawab:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.” (diriwayatkan oleh Al-Marwazi didalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Berkata Al-Marwazy:

وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به

“Dan makna ‘jangan terlalu sering’ adalah jangan menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan. Sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.” (Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Berdoa bersama yang dimaksud kalau satu orang yang berdoa sedangkan yang lain mengamini, maka ini memilki 2 keadaan, yakni:

  1. Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan untuk berdoa bersama. Maka berdoa bersama ketika keadaan ini disyariatkan seperti didalam shalat Al Istisqa’ (meminta hujan) dan Qunut.
  2. Hal ini dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama didalamnya. Seperti berdoa bersama usai shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Al-Qur’an dan lain-lain, maka ini dibolehkan dilakukannya bila kadang-kadang dan tanpa unsur kesengajaan. Namun jikalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid’ah.

Makna Istighosah Bagi Islam

Istighosah, doa yang dipanjatkan ialah memohon kepada Allah atas keadaan yang sulit dan sukar untuk dihadapi. Seperti mendapat bencana atau kesulitan yang sangat besar. Allah subhanahu wa ta’ala akan mengirimkan bantuan-Nya untuk orang-orang yang selalu ingat dan selalu menyebut namanya . mengingat nama-Nya bukan hanya saat kita membutuhkan atau berada situasi sulit namun juga ketika keadaan lapang tetap mengingat Allah SWT.

Kesulitan dan kesusahan merupakan datangnya dari Allah, Dia menguji hambanya kewat berbagai musibah dan ujian yang diturunkan untuk hamba-Nya agar meningkatkan rasa iman dan taqwanya kepada Allah SWT. Hendaklah ketika dalam kesusahan, Allah SWT lah yang akan kita datangi jangan selain pada-Nya (syirik).

Jadikanlah kita manusia yang pandai bersyukur dan selalu introspeksi diri untuk memperbaiki diri agar menjadi hamba Allah yang berkualitas baik dari segi iman maupun taqwa.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

Artinya: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami.”(QS. Al-Hasyr : 10)

Aamiin

Bertaubat Nasuha

Si Preman Kampung Yang Sudah Taubat

Kisah ini menceritakan seorang preman yang udah taubat disaat Allah SWT memberikan dia waktu untuk memperbaiki kehidupan dan amal ibadahnya. Bang Yoga namanya, tidak disangka-sangka bang Yoga baru mau belajar shalat, dia diminta isi kultum saat Kuliah Tujuh menit di Shubuhan saat bulan Ramadhan.

Banyak warga yang kaget melihatnya berdiri dimimbar karena akan mengisi kultum, karena pastinya, dia si preman kampung yang suka berulah dan bikin kesel warga sekitar.

Banyak yang menyangka Kultum di bulan Ramadhan  harus diisi oleh para kiyai atau ustadz, namun tidak diMushalla ini, Mushalla yang berada di Ketapang, Tangerang, memberikan kepada siapa saja yang ingin menyampaikan materi ,berbagi aspirasi bersama warga ataupun hanya sekedar belajar memberanikan diri bicara didepan banyak orang.

Bang Yoga mengisi kultum, menggantikan jatah warga yang kebagian ngisi kultum tapi tidak hadir. Dengan potongan rambut baru yang lebih terlihat rapih, yang sebelumnya rambut panjang bang yoga hampir menyentuh pinggang.

Bertaubat NasuhaBang Yoga dengan segenap kepercayaan diri, berdiri di mimbar dan membuka suara,”Saya mau membawakan materi berjudul, Kematian!” katanya saat memulai.

Para jamaah dan warga yang berada diMushalla pun bersorak riuh,bukan karena kalimatnya, tapi karena cara bicaranya. Maka mengundang antusias warga untuk mendengar seorang Yoga berceramah.

Ia melanjutkan, “Bapak-bapak dan Ibu-ibu, pasti kaget melihat saya berdiri disini, didepan Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang saya hormati. Mungkin yang kenal saya [asti sebel dan benci melihat saya, karena mengingat saya memang pantas disebelin dan dibenciin. Tapi saya ingat, manusia boleh kan juga bertobat. Dan juga saya denger, Allah mah engga pernah bakalan nutu pintu tobat. Enggak pernah kan, bukan begitu, Uztadz?” katanya Yoga sambil melirik Cang Haji Muhidin yang tadi bisik-bisik pas Bang Yoga naik mimbar. Yang dilirik, tersenyum.

“Sudah lumayan lama saya pengen shalat di Mushalla ini. Tapi, kepengen tinggal kepengen doang. Soalnya malu. Dan juga saya menag enggak bisa shalat yang bener, kayak  shalatnya orang-orang. Rapih, cakep, tertib dan enak dipandang.” Lanjut bang Yoga.

“Bapak-bapak lihat,’kan, sebenernya udah dua bulan saya sudah ga main judi lagi, engga main sabung ayam lagi, tidak menyentuh minum-minuman. Paling, maen burung!” Semua jamah tertawa.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu, tau tidak kenapa saya udah menjauhi smeua itu? Pasalnya, saya takut mati! Banyak kawan-kawan saya udah pada mati. Dan matinya bikin saya jadi takut. Ada yang lagi maen judi, mati. Ada yang lagi nyolong, mati. Ada yang lagi ribut juga mati. Dan matinya enggak pake bilang-bilang Pak, Bu. Plek, mati gitu aja.”

“Saya engga mau begitu Pak,Bu. Saya enggak mau mati pas belom tobat. Biarin dah, selama dua bulan ini saya belum bisa shalat, belum bisa ngikut ngaji. Yang penting saya udah berusaha menjauhi segala perbuatan yang Allah sangat murkai. Nah, saya baru nongol

“Jadi, begitu, Bapak-bapak, Ibu-ibu, kita enggak pernah tahu kapan saatnya kita mati, kalo saat itu sudah datang, dia enggak bakal milih-milih, kagak bakal bilang-bilang.”

“Udah ah, itu aja. Maafin, saya enggak bisa ceramah kayak Ustadz Surdin, kayak Haji Muhidin. Lagian, saya berdiri disini’kan, enggak direncanain. Kalo direncanain, malah saya kayaknya enggak bakal datang.”

“Saya juga mau banyak-banyak minta maaf, mumpung Bapak-bapak, Ibu-ibu pada hadir semua. Yang enggak hadir juga dengar dispeaker. Saya minta maaf. Selama ini, saya menag dikenal banyak bikin ulah, banyak buat susah. Kalau bukan disini, sya pasti sulit untuk minta maaf, dan kalau bukan disini, Bapak-bapak, Ibu-ibu juga susah buat maafin saya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.”

Sesaat kemudian, terdengar suara Ustadz Surdin menutup ta’lim shubuh, “Demikianlah, sudah kita dengar pesan-pesan yang disampaikan Bang Yoda. Janganlah lihat siapa orangnya, lihat saja kebaikan yang disampaikannya. Singkat, padat, dan berisi. Kita doakan saja suapaya Bang Yoda bisa jadi Ustadz, aamiin. Sebagaimana kematian yang datang tanpa memberi salam dan mengetuk pintu, juga tanpa memilih orangnya, hidayah pun demikian. Ia dapat hadir di hati siapa saja yang Allah memang berkenan kepadanya.

 

Sumber : How to Make a Good Life

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Nurul

Online

Nurul

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00