Archive: May 30, 2018

bersedekah dibulan ramadhan

Keutamaan Banyak Bersedekah Di Bulan Ramadhan

Sedekah di bulan ramadhan sangatlah dianjurkan. Bagaimana tidak, keutamaan dibulan ramadhan merupakan alasan terbaik orang mukmin untuk memperbanyak sedekah.  Rasulullah SAW merupakan manusia yang sangat bersemangat dalam berbuat kebaikan. Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma, ia berkata:

“Nabi SAW adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan. Tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya dibulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul SAW adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari : 3554 dan Muslim : 2307)

Dan ini bukan hanya perintah Nabi Muhammad SAW namun, termasuk perintah Allah SWT. Karena kedermawanan merupakan salah satu dari sifat Allah Ta’ala.

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi). Dan diteruskan oleh sabda Nabi Shallallahu’alaihi wassalam yang artinya, “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang dibawah. Tangan diatas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari dan Muslim)

bersedekah dibulan ramadhan

Alasan Dianjurkannya Banyak Bersedekah Dibulan Ramadhan

Tak dapat dielakkan, bulan Ramadhan merupakan bulan dengan pahala yang Allah siapkan dengan berlipat ganda. Lalu apa sajakah alasan lainnya? Berikut uraiannya.

  1. Bulan Ramadhan adalah waktu yang mulia dan pahal berlipat ganda pada bulan tersebut.
  2. Berderma dibulan ramadhan sama saja dengan membantu orang yang berpuasa. Dan orang yang membantu tersebut mendapat pahala seperti pahala mereka yang beramal.

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikitpun juga.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

  1. Digabungkannya puasa dan sedekah merupakan sebab seseorang dimudahkan masuk surga.

Dari Ali, ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya disurga ada kamar yangn luasnya bisa dilihat dari  dalamnya dan dalamnya bisa dilihat dari luarnya.” Lantas orang Arab Badui ketika mendengar hal itu langsung berdiri dan berkata, “Untuk siapa keistimewaan-keistimewaan tersebut wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Itu disediakan bagi orang yang berkata yang baik, memberi makan(kepada yang butuh), rajin berpuasa dan melakukan shalat dimalam hari ketika manusia terlelap tidur.” (HR. Tirmidwzi dan Ahmad)

  1. Didalam berpuasa pasti ada kekurangannya, maka sedekah merupakan penutup dari kekurangan tersebut. Oleh karena itu, diakhir ramadhan disyariatkan untuk seluruh kaum muslimin agar menunaikan zakat fitrah. Bertujuan mensucikan orang yang berpuasa. Dari Ibnu Abbas radiyallahuanhuma, ia berkata “Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang berpuasa dari kata-kata yang sia-sia dan dari kata-kata kotor, juga untuk memberi makan kepada orang miskin.” (HR. Abu Daud : 1609 dan Ibnu Majah : 1827)
  2. Dibulan Ramadhan, Allah SWT beri kasih sayang dan berderma kepada hamba-hamba –Nya dengan memberikan rahmat, ampunan dan dibebaskan dari api neraka, terlebih lagi pada malam Lailatul Qadar
  3. Disyairatkan banyak berderma ketika puasa seperti memberi makan buka puasa adalah agar orang kaya dapat merasakanorang yang biasa menderita lapar sehingga mereka pun dapat membantu orang yang sedang kelaparan. Oleh karena itu sebagian ulama teladan dimasa silam ditanya, “kenapa kita diperintahkan untuk berpuasa?” Jawab mereka, “Supaya yang kaya dapat merasakan penderitaan orang yang lapar. Itu supaya ia tidak melupakan deritanya orang lapar.” (Lathaif Al-Ma’arif hal 300)

 

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku sangat senang ketika melihat ada yang bertambah semangat mengulurkan tangan membantu orang lain dibulan Ramadhan karena meneladani Rasulullah SAW, juga karena manusia saat puasa sangat-sangat membutuhkan bantuan dimana mereka telah tersibukkan dengan puasa dan shalat sehingga sulit untuk mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Contoh ulama yang seperti itu adalah Al-Qadhi Abu Ya’la dna ulama Hambali lainnya.” (Latahif Al-Ma’arif hal 301)

Semoga tangan dan kaki kita selalu ringan dalam berbuat kebaikan. Dan apapun kebaikan yang kita lakukan semata-mata hanya mengharapkan Allah SWT.

Shalat Tarawih

Keutamaan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Shalat tarawih merupakan shalat sunnah yang hanya ada dibulan suci Ramadhan. Shalat sunnah ini dilaksanakan ba’da Shalat Isya yang terdiri dari 23 Rakaat. Shalat tarawih merupakan shalat sunah dengan segudang pahala. Shalat tarawih ini memiliki pahala yang sangat luar biasa dan sangat disayangkan bila kita melewatkan shalat sunnah yang hanya ada dibulan puasa ini. Yang hanya ada setahun sekali dan hanya ada dibulan Ramadhan.

Bila kita melaksanakan shalat tarawih dari hari pertama hingga hari terakhir. Maka pahala yang tidak bisa terhitung bagi yang melaksanakan shalat sunah tersebut. Dari Bab keistimewaan Ramadhan dari Ali bin Abi Tahlib ra bahwa dia berkata: Nabi Muhammada SAW ditanya tentang keutamaan-keutamaan tarawih dibulan Ramadhan.

Kemudian Beliau menjawab “ Seorang Muslim yang melaksanakan Shalat tarawih dari malam pertama hingga malam terkakhir ( ke 29 atau 30), maka fadhilah (kebaikan) yang Allah SWT sediakan baginya pada tiap malam adalah” 1. Orang mukmin keluar dari dosanya pada malam pertama, seperti saat dia dilahirkan oleh ibunya.

 Shalat Tarawih

Shalat Terawih Bersama Imam Hingga Selesai

Kadang sebagian orang yang melaksanakan shalat tarawih  bersama imam tidak mengikutinya sampai selesai. Dan ketika imam akan melanjutkan shalat witir yang 3 rakaat sebagiaan jamaah pulang dan tidak mengikuti imam. Dan ada yang mengurangi jumlah rakaat tarawih hanya 11 rakaat saja. Dari Abu Dzar ra, Nabi Muhammad SAW mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh (HR. An Nasai : 1605. Tirmidzi : 806, Ibnu Majah : 1327, Ahmad dan Tirmidzi)

Dan diriwayatkan dalam hadits lain Musnad Imam Ahmad, disebutkan dari Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ حُسِبَ لَهُ بَقِيَّةُ لَيْلَتِهِ

“Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imam hingga imam selesai, maka dia dihitung mendapatkan pahala shalat disisa malamnua.” (HR. Ahmad 5:163)

Shalat 23 rakaat yang dilakukan Umar dan para sahabat radhiyallahu’anhum, tidak ada kekurangan didalamnya, karena merupakan saunah khulafaurrasyidin. (Majmu’ Fatawa, Syaikh Ibnu Baz).

Hikmah Shalat Terawih Dari Awal Hingga Akhir

Seperti yang telah disandingkan di pembahasan pertama, bila kita melaksanakan shalat terawih hari pertama maka keutamaan baginya selayaknya dia yang baru lahir dari dunia yang tidak memiliki dosa. Bagaimana bila kita datang pada shalat tarawih ke 2, 3, 4 dan seterusnya? Subhanallah, semua Allah SWT berikan untuk kita bila kita menjalankan segala perintahnya.

Dibulan ramadhan ini, sangat dianjurkannya melakukan segala sunah yang ada dibulan ramadhan. Agar tercapainya ramadhan yang berkah dan penuh dengan berlipat gandanya pahala. Maka sangat disayangkan bila kita melewatkan setiap kegiatan yang dilaksanakan pada hanya bulan ramadhan saja. Karena hanya dibulan ini segala amal dan pahala kita dilipat gandakan oleh Allah SWT.

Semoga kita termasuk kedalam orang-orang yang beruntung dan mendapat keberkahan dibulan ramadhan ini, serta dapat meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Hendaklah kita melakukan segala amal dan apa yang diperintahkan oleh Allah karena semata-mata hanya mengharapkan Ridho-Nya.

Aamiin Ya Robbal’aalamiin

Sunah puasa dalam Ramadhan

6 Macam Sunah Dalam Menjalankan Ibadah Puasa

Sunah-sunah puasa dalam ramadhan sangat dianjurkan untuk kita lakukan, karena dibulan ramadhan ini segala pahala baik kita akan dilipat gandakan oleh Allah SWT. Maka hendaklah kita menghidupkan sunah-sunah dalam berpuasa agar tercapainya puasa yang sempurna dengan pahala yang luar biasa.

Nabi muhammad SAW selalu mengerjakan sunah-sunah tersebut. Salah satunya ialah makan ketika sahur, sesungguhnya makan ketika sahur ialah sebagai pembeda puasanya orang muslim dengan puasanya orang yahudi-nasrani, dari Amr bin Ash ra, Rasulullah SAW bersabda :

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ

“Perbedaan antara puasa umat muslim dan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur” (HR. Muslim : 1096)Sunah puasa dalam Ramadhan

Menghidupkan Ramadhan Dengan Sunah-Sunah Puasa

Menghidupkan http://yayasannurulihsan.org/marilah-kita-menyambut-ramadhan-dengan-suka-cita/Ramadhan dengan sunah-sunah dalam berpuasa ialah menjadi keharusan, bagaimana tidak? Karena semua memiliki hikmah dan keberkahan pahala yang terkandung didalamnya. Lalu apa sajakah sunah-sunah dalam menjalankan ibadah puasa tersebut? Berikut sajiannya :

  1. Mengakhiri Sahur

Makan sahur merupakan tanda bahwa agama islam selalu mendatangkan kemudahan bukan kesulitan. Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Barang siapa ingin berpuasa, maka hendaklah ia bersahur.” (HR. Ahmad)

Dan dalam sahur, disunahkan untuk mengakhirinya hingga menjelang fajar. Hal ini dapat dilihat dari hadis berikut. Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata: “Kami pernah makan sahur bersama Nabi. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, “Berapa lam jarak antara adzan Shubuh dan Sahur kalian?” Zaid menjawab, “Sekitar membaca 50 ayat.” (HR. Bukhari : 575 dan Muslim : 1097).

Dalam riwayat Bukhari dikatakan, “Sekitar membaca 50 atau 60 ayat.”

Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan, “Maksud sekitar membaca 50 ayat artinya waktu makan sahur tersebut tidak terlalu lama dan tidak terlalu cepat.” Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Hadits ini adalah dalil bahawa batas makan sahur adalah sebelum terbit fajar.”

Lalu bolehkah makan sahur setelah waktu imsak? (sepuluh menit sebelum subuh)

Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah ditanya, “Beberapa organisasi dan yayasan membagi-bagikan Jadwal Imsakiyah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jadwal ini khusus berisi waktu-waktu shalat. Namun dalam jadwal tersebut ditetapkan bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum) adalah 15 menit sebelum adzan shubuh. Apakah seperti ini memiliki dasar dalam ajaran Islam?”

Syaikh rahimahullah menjawab:

“Saya tidak mengetahui adanya dalil tentang penetapan waktu imsak 15 menit sebelum adzan subuh. Bahkan yang sesuai dengan dalil Al-Qur’an dan As Sunah, imsak(yaitu menahan diri dari makan dan minum) adalah mulai terbitnya fajar(msuk waktu subuh). Dasar firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah : 187)

Dan dasarnya adalah sabda Nabi, yang artinya:

“Fajar ada 2 macam: pertama fajar diharamkan untuk makan dan dihallkan untuk shalat(yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu subuh) dan kedua fajar yang diharamkan untuk shalat subuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq).”

Dasarnya lagi, sabda Nabi:

“Bilal biasa mengumandangkan adzan dimalam hari. Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.” (HR. Buhkari : 623). Seorang periwayat hadits ini mengatakan bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta dn beliau tidaklah mengumandangkan adzan sampai ada yang memberitahukan padanya “Waktu subuh telah tiba, waktu subuh telah tiba.” (Majmu’ fatawa Ibnu Baz, 15/281-282)

  1. Menyegerakan Berbuka

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain juga disebutkan:

لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ

“Umatku akan sesantiasa berada diatas sunahku(ajaranku) selama tidak meunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu hibban dan Ibnu Khuzaimah). Dan inilah yag ditiru oleh Rafidhah(Syi’ah), mereka meniru yahudi dan nasrani dalam berbuka puasa. Merek baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah SWT melindungi kita dari kesesatan mereka.

Nabi kita Muhammad SAW biasa berbuka sebelum menunaikan shalat maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlak dari suri tauladan Nabi kita Muhammad SAW. Sebagaimana Anas bin Malik ra berkata, yang artinya, “Rasulullah SAW biasanya brebuka dengan ruthab(kuram basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada ruthah, maka beliau berbuka dengan kurama tamr(kurma kering). Dan jika tida ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

  1. Berbuka Dengan Kurma Jika Mudah Diperoleh Atau Dengan Air

Dalilnya adalah hadits yang disebutkan di atas dari Anas. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika berbuka disunnahkan pula untuk berbuka dengan kurma atau dengan air. Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis-manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.

  1. Berdoa Ketika Berbuka

Ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya doa. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya, “Ada tiga orang yang daoanya tidak ditolak: (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Doa orang yang terdzalimi.” (HR. Tirmidzi : 2526 dan Ibnu Hibban 16/396)

  1. Memberi Makan Pada Orang Yang Berbuka

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurani pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun juga.”  (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

  1. Lebih Banyak Berderma Dan Beribadah Kepada Allah SWT

Dari Ibny Abbas ra, ia berkata, “nabi adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi dibulan Ramadhan yaitu ketika Jibril’alaihissalam menemui beliau. Jibril’alaihissalam datang menemui beliau pada setiap malam dibulan Ramadhan(untuk membaca Al-Qur’an) hingga Al-Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi. Apabila Jibril’alaihissalam datang menemuinya, beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari : 1902 dan Muslim : 2308)

Ibnu Qayyim Rahimahullah mengatakan, “Nabi lebih banyak lagi melakukan kebaikan dibulan Ramadhan. Beliau mempebanyak sedekah, berbuat baik, memebaca Al-Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.” (Zaadul Maad 2:25)

Dengan banyak berderma melalui memebri makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga. Dari Ali, ia berkata, Rasulullah bersabda, yang artinya, “Sesungguhnya disurga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab badui berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasulullah?” Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.” (HR. Tirmidzi : 1984)

Info Lengkap, Hubungi Kami

Kami dengan senang hati membantu Anda. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Klik Chat di bawah ini.

customer Service

Nurul

Online

Nurul

Assalamu'alaikum. Ada yang bisa Kami bantu ? 00.00